Friday, 27 May 2016

KONTROVERSI HUKUM PUASA ROJAB : SUNNAH/ BID’AH?

0


KONTROVERSI HUKUM PUASA ROJAB : SUNNAH/ BID’AH?

Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah Cirebon
 بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العلمين. وبه نستعين على أمور الدنيا والدين. وصلى الله على سيدنا محمد وآله صحبه وسلم أجمعين. قال الله تعالى :  إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين. الأية  . وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدى هدى ‏ ‏محمد ‏وشر الأمور ‏ ‏محدثاتها ‏ ‏وكل بدعة ضلالة . أما بعد :

  1. PENDAHULUAN
Ada 2 hal yang harus diperhatikan dalam membahas masalah puasa Rojab. Pertama :  Tidak ada riwayat yang benar dari Rosulullah SAW  yang melarang puasa Rojab.  Kedua : Banyak riwayat-riwayat tentang keutamaan puasa Rojab yang tidak benar dan palsu.

Dan di dalam masyarakat kita terdapat 2 kutub ekstrim. Pertama adalah sekelompok kecil kaum muslimin yang menyuarakan dengan lantang bahwa puasa bulan Rojab adalah bid’ah. Kedua : Sekelompok orang yang biasa melakukan atau menyeru puasa Rojab akan tetapi tidak menyadari telah membawa riwayat-riwayat tidak benar dan  palsu. Maka dalam risalah kecil ini kami ingin mencoba menghadirkan riwayat yang benar sekaligus pemahaman para ulama 4 madzhab tentang puasa di bulan Rojab

Sebenarnya masalah puasa rojab sudah dibahas tuntas oleh ulama-ulama terdahulu dengan jelas dan gamblang. Akan tetapi  karena adanya kelompok kecil hamba-hamba Alloh yang biasa MENUDUH BID’AH ORANG LAIN menyuarakan dengan lantang bahwa amalan puasa di bulan Rojab adalah sesuatu yang bid’ah.

Dengan Risalah kecil ini mari kita lihat hujjah para ulama tentang puasa bulan Rojab dan mari kita juga lihat perbedaan para ulama di dalam menyikapi hukum puasa di bulan Rojab. Yang jelas bulan Rojab adalah termasuk bulan Haram yang 4 (Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rojab) dan bulan haram ini dimuliakan oleh Allah SWT sehingga tidak diperkenankan untuk berperang di dalamnya dan masih banyak keutamaan di dalam bulan-bulan haram tersebut khususnya bulan Rojab. Dan di sini kami hanya akan membahas masalah puasa Rojab, untuk masalah yang lainnya seperti hukum merayakan Isro’ Mi’roj dan sholat malam di bulan rojab akan kami hadirkan pada risalah yang berbeda.

Tidak kami pungkiri adanya hadits-hadits dho’if atau palsu (Maudhu’) yang sering dikemukakan oleh sebagian pendukung puasa Rojab. Maka dari itu wajib bagi kami untuk menjelaskan agar jangan sampai ada yang membawa hadits-hadits palsu biarpun untuk kebaikan seperti memacu orang untuk beribadah hukumnya adalah HARAM dan DOSA BESAR sebagaimana ancaman Rosulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّءْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Artinya : “Barang siapa sengaja berbohong atas namaku maka hendaknya mempersiapkan diri untuk menempati neraka”.

Dan perlu diketahui bahwa dengan banyaknya hadits-hadits palsu tentang keutamaan puasa Rojab  itu  bukan berarti tidak ada hadits  yang benar yang  membicarakan tentang keutamaannya bulan Rojab.

  1. Dalil-dalil tentang puasa Rojab :

  1. Dalil tentang puasa Rojab Secara umum

Himbauan secara umum untuk memperbanyak puasa kecuali di hari-hari yang diharamkan yang 5. Dan bulan Rojab adalah bukan termasuk hari-hari yang diharamkan. Dan juga anjuran-anjuran memperbanyak di hari-hari seperti puasa hari senin, puasa hari kamis, puasa hari-hari putih, puasa Daud dan lain-lain yang itu semua bisa dilakukan dan tetap dianjurkan walaupun di bulan Rojab. Berikut ini adalah riwayat-riwayat tentang keutamaan puasa.

  1. Hadits Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori No.5472:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ أَدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامُ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ

“Semua amal anak adam (pahalanya) untuknya kecuali puasa maka aku langsung yang membalasnya”

  1. Hadits Yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No.1942:
لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih wangi dari misik menurut Allah kelak di hari qiamat”

Yang dimaksud Allah akan membalasnya sendiri adalah pahala puasa tak terbatas hitungan tidak seperti pahala ibadah sholat jama’ah dengan 27 derajat. Atau ibadah lain yang  satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan.

  1. Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori No.1063 dan Imam Muslim No.1969 :

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَ يُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya paling utamanya puasa adalah puasa saudaraku Nabi Daud, beliau sehari puasa dan sehari buka”

  1. Dalil-dalil puasa Rojab secara khusus

  1. Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim

أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ حَكِيْمٍ اْلأَنْصَارِيِّ قَالَ: " سَأَلْتُ سَعِيْدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ صَوْمِ رَجَبَ ؟ وَنَحْنُ يَوْمَئِذٍ فِيْ رَجَبَ فَقَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ"

“Sesungguhnya Sayyidina Ustman Ibn Hakim Al-Anshori, berkata : “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rojab dan ketika itu kami memang di bulan Rojab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata : “Nabi Muhammad SAW berpuasa (di bulan Rojab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rojab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rojab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rojab.”

Dari riwayat tersebut di atas bisa dipahami bahwa Nabi SAW pernah berpuasa di bulan Rojab  dengan utuh, dan Nabi pun pernah tidak berpuasa dengan utuh.

Artinya di saat Nabi SAW meninggalkan puasa di bulan Rojab itu menunjukan bahwa puasa di bulan Rojab bukanlah sesuatu yang wajib.  Begitulah yang dipahami para ulama tentang amalan Nabi SAW, jika Nabi melakukan satu amalan kemudian Nabi meninggalkannya  itu menunjukan amalan itu bukan suatu yang wajib, dan hukum mengamalkannya adalah sunnah.

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah

عَنْ مُجِيْبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيْهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ : أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالَتُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمَا تَعْرِفُنِيْ. قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيِّ الَّذِيْ جِئْتُكَ عَامَ اْلأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلاَّ بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ. ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِيْ فَإِنَّ بِيْ قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِيْ قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلاَثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا. رواه أبو داود 2/322

“Dari Mujibah Al-Bahiliah  dari ayahnya atau pamannya sesungguhnya ia (ayah atau paman) datang kepada Rosulullah SAW kemudian berpisah dan kemudian datang lagi kepada Rosulullah setelah setahun dalam keadaan tubuh yang berubah (kurus), dia berkata : Yaa Rosulullah apakah engkau tidak mengenalku? Rosulullah SAW menjawab : Siapa Engkau? Dia pun berkata : Aku Al-Bahili yang pernah menemuimu setahun yang lalu. Rosulullah SAW bertanya : Apa yang membuatmu berubah sedangkan dulu keadaanmu baik-baik saja (segar-bugar), Ia menjawab : Aku tidak makan kecuali pada malam hari (yakni berpuasa) semenjak berpisah denganmu, maka Rosulullah SAW bersabda :  Mengapa engkau menyiksa dirimu, berpuasalah di bulan sabar dan sehari di setiap bulan, lalu ia berkata : Tambah lagi (yaa Rosulullah) sesungguhnya aku masih kuat. Rosulullah SAW berkata : Berpuasalah 2 hari (setiap bulan), dia pun berkata : Tambah lagi ya Rosulullah. Rosulullah SAW berkata : berpuasalah 3 hari (setiap bulan), ia pun berkata: Tambah lagi (Yaa Rosulullah), Rosulullah SAW bersabda : Jika engkau menghendaki berpuasalah engkau di bulan-bulan haram (Rojab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharrom) dan jika engkau menghendaki maka tinggalkanlah, beliau mengatakan hal  itu tiga kali sambil menggenggam 3 jarinya kemudian membukanya.
 Imam nawawi  menjelaskan hadits tersebut.
قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ" صُمْ مِنَ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ" إنما أمره بالترك ; لأنه كان يشق عليه إكثار الصوم كما ذكره في أول الحديث . فأما من لم يشق عليه فصوم جميعها فضيلة . المجموع 6/439
“Sabda Rosulullah SAW :
 صم من الحرم واترك
“Berpuasalah di bulan haram kemudian tinggalkanlah”
Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan berbuka kepada orang tersebut karena dipandang puasa terus-menerus akan memberatkannya  dan menjadikan fisiknya berubah. Adapun bagi orang yang tidak merasa berat untuk melakukan puasa, maka berpuasa dibulan Rojab seutuhnya adalah sebuah keutamaan. Majmu’ Syarh Muhadzdzab juz 6 hal. 439

  1. Hadits riwayat Usamah Bin Zaid

قال قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر غفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم. رواه النسائي 4/201

“Aku berkata kepada Rosulullah : Yaa Rosulullah aku tidak  pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Rosulullah SAW menjawab : Bulan sya’ban itu adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rojab dan Ramadhan, dan bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah SWT dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201.

Imam Syaukani menjelaskan

ظاهر قوله في حديث أسامة : إن شعبان شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان أنه  يستحب صوم رجب ; لأن الظاهر أن المراد أنهم يغفلون عن تعظيم شعبان بالصوم كما يعظمون رمضان ورجبا به  . نيل الأوطار 4/291

Secara tersurat yang bisa dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Usamah,  Rosulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rojab dan Ramadhan” ini menunjukkan bahwa puasa Rojab adalah sunnah sebab bisa difahami dengan jelas dari sabda Nabi SAW bahwa mereka lalai dari mengagungkan sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan ramadhan dan Rojab dengan berpuasa”. Naylul Author juz 4 hal 291

  1. KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG PUASA  ROJAB
  2.  
Dalam menyikapi tentang puasa dibulan Rojab pendapat ulama terbagi menjadi 2, akan tetapi 2 pendapat ini tidak sekeras yang kita temukan di lapangan pada saat ini yaitu dengan membi’dahkan dan memfasiqkan para pelaku puasa Rojab.

Jumhur Ulama dari Madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan riwayat dari Imam Ahmad Bin Hanbal mereka mengatakan bahwasannya disunnahkan puasa di bulan Rojab semuanya dan juga ada riwayat lain dari Imam Ahmad Bin Hanbal bahwasannya makruh mengkhususkan melakukan puasa sebulan penuh di bulan Rojab.

Akan tetapi di dalam Madzhab Imam Ahmad Bin Hanbal dijelaskan bahwasannya kemakruhan ini akan hilang dengan 4 hal :

1)      Dibolong (berbuka) 1 hari di bulan Rojab, atau
2)      Disambung dengan puasa di bulan sebelum Rojab, atau
3)      Disambung dengan puasa di bulan setelah Rojab
4)      Dengan puasa di hari apapun di selain bulan rojab.

Mungkin ada yang mendengar dari salah satu stasiun radio atau selebaran yang dibagi-bagi yang mengatakan bahwasannya “Puasa Rojab adalah Bid’ah Dholalah” dengan membawa Riwayat dari Nabi SAW yang melarang puasa Rojab atau riwayat dari Sayyidina Umar Bin Khottob yang mengatakan “Kami akan memukul orang yang melakukan puasa di bulan Rojab”. Padahal riwayat tersebut adalah tidak benar dan palsu dan sungguh sangat aneh orang yang membid’ahkan puasa bulan Rojab dengan tuduhan riwayat puasa Rojab adalah hadits-haditsnya palsu akan tetapi mereka sendiri tidak sadar bahwa justru riwayat yang melarang puasa bulan Rojab adalah palsu.

Secara singkat para ulama empat madzhab tidak ada yang mengatakan puasa bulan rojab adalah bid’ah. Bahkan mereka sepakat kalau puasa bulan rojab adalah sunnah termasuk dalam madzhab Imam Ahmad bin Hambal.

Berikut ini uraian ulama empat tentang puasa rojab :

  1. 1.     Pendapat Ulama’ Madzhab Hanafi
  • Disebutkan dalam Fatawa Al-Hindiyah Juz 1 Hal. 202 :
)المرغوبات من الصيام أنواع ( أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ). اهـ
“Puasa yang disunnakahkan itu bermacam-macam :
Puasa Muharrom, Puasa Rojab, Puasa Sya’ban, Puasa ‘Asyuro’ (tgl. 10 Muharrom)”

  1. 2.     Pendapat dari Ulama’ Madzhab Maliki
  • Disebutkan dalam Syarh Al-Khorsyi ‘Ala Kholil Juz 2 Hal. 241:
أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم ). اهـ
“Sesungguhnya disunnahkan puasa di bulan Muharrom dan puasa di bulan Rojab.”

  • Disebutkan dalam Hasyiah dari Syarh Al-Khorsyi ‘Ala Kholil :
بل يندب صوم بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة فالحجة ). اهـ
“Disunnahkan puasa di bulan-bulan haram yang 4, paling utamanya adalah puasa di bulan Muharrom kemudian Rojab, Duzl Qo’dah dan Dzul Hijjah”.

  • Disebutkan dalam Muqoddimah Ibnu Abi Zaid serta syarah Lil Fawaakih Al-Dawani juz 2 hal. 272 :
التنفل بالصوم مرغب فيه وكذلك , صوم يوم عاشوراء ورجب وشعبان ويوم عرفة والتروية وصوم يوم عرفة لغير الحاج أفضل منه للحاج. اهـ
“Melakukan puasa disunnahkan begitu juga puasa dihari ‘Asyuro’, bulan Rojab, bulan  Sya’ban, Hari ‘Arafah dan Tarwiyah sedangkan puasa di hari ‘Arafah itu lebih utama bagi orang yang tidak haji”.

  • Disebutkan dalam Syarh Ad-Dardir, syarah Muhtashor Kholil juz 1 hal. 513 :
وندب صوم المحرم ورجب وشعبان وكذا بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذوالقعدة والحجة). اهـ
“Dan disunnahkan puasa Muharrom, Rojab, Sya’ban begitu juga bulan-bulan haram lainnya yang 4 dan paling utamanya adalah puasa Muharrom kemudian Rojab, Duzl Qo’dah dan Dzul Hijjah”.
  • Disebutkan dalam At-Taj Wa Al-Iklil juz 3 hal. 220 :
والمحرم ورجب وشعبان لو قال والمحرم وشعبان لوافق المنصوص . نقل ابن يونس : خص الله الأشهر الحرم وفضّلها وهي : المحرم ورجب وذو القعدة وذو الحجة . اهـ
“Dan disunnahkan Puasa Muharrom, Rojab dan Sya’ban, andaikan beliau berkata “Puasa Muharrom dan Sya’ban disunnahkan maka akan mencocoki Nashnya”. Dinukil dari Ibnu Yunus bahwasannya “Allah SWT mengkhususkan bulan-bulan haram dan mengutamakannya yaitu : Muharrom dan Rojab, Dzul Qo’dah dan Dzul Hijjah.”

  1. 3.     Pendapat dari Ulama’ Madzhab Syafi’i
  • Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Al-Majmu’ (Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab) juz 6 hal. 439 :
قال أصحابنا : ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذوالقعدة وذوالحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم. اهـ
“Berkata Ulama’ kami : Dan dari puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rojab sedangkan yang paling utama adalah Muharrom”.
  • Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshori menyebutkan dalam Asna Al-Mathollib juz 1 hal. 433 :
)وأفضل الأشهر للصوم(  بعد رمضان الأشهر
( الحرم ( ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب )وأفضلها المحرم( لخبر مسلم * أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ( ثم  اقيها) وظاهره استواء البقية والظاهر تقديم رجب خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ). اهـ
“Paling utamanya bulan-bulan untuk puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan-bulan Haram yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rojab sedangkan paling Utamanya adalah Muharrom berdasarkan riwayat dari Imam Muslim “Paling utamanya puasa setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharrom kemudian bulan haram yang lainnya. Secara dhohir keutamaan diantara bulan haram yang lainnya itu sama (selain Muharrom). Dan secara dhohir mendahulukan keutamaan Rojab agar keluar dari Khilafnya ulama yang mengunggulkannya melebihi bulan-bulan Haram”

  • Imam Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fatawa-nya juz 2 hal. 53 :
... وأما استمرار هذا الفقيه على نهي الناس عن صوم رجب فهو جهل منه وجزاف على هذه  لشريعة المطهرة فإن لم يرجع عن ذلك وإلا وجب على حكام الشريعة المطهرة زجره وتعزيره التعزير البليغ المانع له ولأمثاله من المجازفة في دين الله تعالى ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام  إنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه : نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة  لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى. اهـ
“Orang yang melarang puasa Rojab maka itu adalah kebodohan dan ketidak tahuan  terhadap hukum syariat. Apabila ia tidak menarik ucapannya itu maka wajib bagi hakim atau penegak hukum untuk menghukumnya dengan hukuman yang keras yang dapat mencegahnya dan mencegah orang semisalnya yang merusak  agama Allah SWT.
Sependapat dengan ini ‘Izzuddin Abdusssalam, sesungguhnya beliau ditanya dari apa yang dinukil dari sebagian Ahli Hadits tentang larangan puasa Rojab dan pengharamannya, dan apakah sah orang yang bernadzar puasa Rojab sebulan penuh maka beliau menjawab “Nadzar puasa Rojab itu sah dan bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun larangan puasa Rojab itu adalah pendapat orang yang bodoh akan pengambilan hukum-hukum syariat. Bagaimana bisa dilarang sedangkan para Ulama’ yang dekat dengan syariat tidak ada yang menyebutkan tentang dimakruhkannya puasa Rojab bahkan dikatakan puasa Rojab adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT (sunnah)".

  • Disebutkan dalam Mughni Al-Muhtaj  juz 2 hal. 187 :
أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم , وأفضلها المحرم لخبر مسلم* أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم ثم رجب , خروجا من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها ثم شعبان ). اهـ
“Paling utamanya bulan-bulan untuk melakukan puasa setelah Ramadhan adalan bulan-bulan haram, sedangkan paling utamanya adalah Muharrom berdasarkan Hadits riwayat Imam Muslim “Paling utamanya puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharrom” kemudian Rojab agar keluar dari Khilaf tentang keutamaan Rojab  terhadap bulan-bulan haram lainnya kemudian Sya’ban”.
  • Disebutkan dalam Nihayah Al-Muhtaj juz 3 hal. 211 :
)اعلم أن أفضل الشهور للصوم بعد رمضان الأشهر الحرم وأفضلها المحرم ثم رجب خروجا  من خلاف من فضله على الأشهر الحرم ثم باقيها وظاهره الاستواء ثم شعبان (. اهـ
“Ketahuilah sesungguhnya paling utamanya bulan-bulan untuk melakukan puasa setelah Ramadhan adalah puasa bulan-bulan Haram. Sedangkan paling utamanya adalah Muharrom kemudian Rojab agar keluar dari Khilaf tentang keutamaannya atas bulan-bulan Haram yang lainnya, yang jelas keutamaannya sama dengan bulan-bulan haram yang lainnya kemudian Sya’ban”.

  1. Pendapat dari Ulama’ Madzhab Hanbali
  • Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Al-Mughni juz 3 hal. 53 :
فصل : ويكره إفراد رجب بالصوم . قال أحمد : وإن صامه رجل , أفطر فيه يوما أو أياما , بقدر ما لا يصومه كله ... قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه , وإلا فلا يصومه متواليا  , يفطر فيه ولا يشبهه برمضان ). اهـ
“Fasal : Dan dimakruhkan mengkhususkan Rojab dengan puasa, Imam Ahmad berkata “Apabila seseorang berpuasa bulan Rojab maka berbukalah sehari atau beberapa hari sekiranya ia tidak puasa sebulan penuh, Imam Ahmad berkata “Barangsiapa terbiasa puasa setahun maka boleh berpuasa sebulan penuh kalau tidak biasa puasa setahun janganlah berpuasa terus-menerus dan jika ingin puasa rojab sebulan penuh hendaknya ia berbuka di bulan Rojab (biarpun sehari) agar tidak menyerupai Ramadhan”.
Dari keterangan tersebut sangat jelas bahwa Imam Ahmad tidak membidahkan puasa rojab.
  • Disebutkan dalam Al-Furu’  Karya Ibn Muflih juz 3 hal. 118 :

فصل : يكره إفراد رجب بالصوم نقل ابن حنبل : يكره , ورواه عن عمر وابنه وأبي بكرة , قال أحمد : يروى فيه عن عمر أنه كان يضرب على صومه , وابن عباس قال : يصومه إلا يوما أو أياما. وتزول الكراهة بالفطر أو بصوم شهر آخر من السنة . اهـ
“Fasal : Dimakruhkan mengkhususkan Rojab dengan berpuasa berdasarkan apa yang dinukil dari Imam Ahmad Bin Hanbal dan diriwayatkan oleh Umar dan puteranya dan Abi bakrah. Imam Ahmad berkata “Diriwayatkan dari Sayyidina Umar Ra sesungguhnya beliau memukul orang yang berpuasa Rojab, dan berkata Ibnu Abbas “Hendaknya berpuasa Rojab dengan berbuka sehari atau beberapa hari”. Dan kemakruhan puasa bulan rojab akan hilang dengan berbuka (walaupun sehari) atau dengan berpuasa di bulan lain selain bulan rojab.

  1. KESIMPULAN

Dari penjelasan dari ulama empat madzhab sangat jelas bahwa puasa bulan rojab adalah sunnah hanya menurut madzhab Imam Ahmad saja yang makruh. Dan ternyata kemakruhan puasa Rojab menurut madzhab Imam Hanbali itu pun jika dilakukan sebulan penuh. Adapun kalau berbuka satu hari saja atau di sambung dengan sehari sebelumnya atau sesudahnya. Atau dengan melakukan puasa di dselain bulan rojab maka kemakruhannya akan  hilang . Dan mereka tidak mengatakan puasa rojab  bid'ah  sebagaimana yang marak akhir-akhir ini disuarakan oleh kelompok orang dengan menyebar selebaran, siaran radio atau  internet. Wallohu a'lam bishshowab

Thursday, 26 May 2016

Fiqih Bab Puasa (Syarat, Rukun, Wajib, Rukhsoh)

0

Sebentar lagi puasa nieh,agan-agan udah ada persiapan belum?menyambut datangnya Ramadhan kali ini.Dari pada benggong aja dirumah,mending baca artikel dari ane ini.Mudah-mudahan bermanfaat bagi agan semua deh.(cekidot)

 

APA ITU PUASA?
Puasa secara bahasa 'imsaak' (امساك) menahan diri dari perbuatan dan berbicara, adapun puasa secara syara’ adalah
(امساك عن المفطرعلى وجه مخصوصة) : menahan diri dari yang membatalkan menurut cara tertentu. Adapun dalil yang menentukan wajibnya puasa adalah Firman Allah QS. Al Baqarah :183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Juga dalam hadist di sebutkan bahwa salah satu dasar Rukun Islam adalah puasa.

بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج البيت  وصوم رمضان
Artinya: Islam itu di bangun atas lima (dasar) syahadah, sholat, zakat,haji dan puasa Ramadhan (bukhari).


Berikut akan kami uraikan mengenai Bab Puasa:

يجب صوم رمضان بأحد أمور خمسة: (أحدها) بكمال شعبان ثلاثين يوما (وثانيها) برؤية الهلال في حق من رآه وان كان فاسقا (وثالثا) بثبوته في حق من لم يره بعدل شهادة (ورابعا) بإخبار عدل رواية موثوق به سواء وقع في القلب صدق أم لا أوغيره موثوق به إن وقع في القلب صدقه (وخامسها) بظن دخول رمضان بالإجتهاد فيمن اشتبه عليه ذلك

WAJIBNYA PUASA
 Diwajibkannya puasa Ramadhan karena ada salah satu perkara dari yang lima; salah satunya :
1. Sempurnanya bulan Sya'ban dengan jumlah 30 hari.
2. Dengan Ru'yatul Hilal (melihat bulan, penj) secara dengan benar orang yang menyaksikannya walaupun ia orang fasiq.
3. Dengan menetapkankannya secara benar orang yang tidak melihatnya dengan persaksian yang adil (dihadapan hakim, penj)
4. Dengan khabar orang yang adil riwayatnya serta terpercaya, sama saja baik membenarkan didalam hatinya atau pun tidak, atau orang yang tidak terpercaya namun didalam hatinya membenarkan.
5. Dengan dugaan bahwa telah masuk bulan Ramadlan berdasarkan ijtihad bagi orang yang ragu dengan hal tersebut.

شروط صحته أربعة أشياء: إسلام وعقل ونقاء من نحو حيض وعلم بكون الوقت قبلا للصوم

SYARAT SHAHNYA PUASA
 Bahwa syarat sahnya ouasa itu ada 4 perkara :
1. Islam.
2. Aqil (berakal).
3. Suci semisal dari haid.
4. Mengetahui waktu puasa sebelumnya bagi orang yang berpuasa.

شروط وجوبه خمسة اشياء: اسلام وتكليف وإطاقة وصحه وإقامة

SYARAT WAJIBNYA PUASA
Bahwa syarat wajibnya puasa ada 5 perkara :
1. Islam.
2. Mukallaf (orang yang telah terkena kewajiban syara', penj).
3. Kuat melakukan puasa.
4. Sehat.
5. Iqamah (tidak bepergian, penj).

أركانه ثلاثة أشياء: نية ليلا لكل يوم في الفرض وترك مفطر ذاكرا مختارا غير جاهل معذور وصائم

RUKUN PUASA
Bahwa rukun puasa itu ada 3 perkara :
1. Niat pada malam harinya untuk setiap harinya puasa fardhu.
2. Meninggalkan hal yang membatalkan puasa ketika masih dalam keadaan ingat serta bisa memilih (tidak ada paksaan, penj), juga tidak bodoh yang ma'dzur (terhalang).
3. Shaim (orang yang melakukan puasa).

BATALNYA PUASA
Bahwa batalnya puasa itu ada beberapa hal :
1. Murtad (keluar dari agama Islam).
2. Haid/nifas
3. Istimna' (mengeluarkan sperma dg sengaja)
4. Melahirkan (bersalin).
5. Gila walaupun hanya sebentar.
6. Pingsan.
7. mabuk yang disengaja jika terjadi pada siang harinya.
8. Makan, minum dan bersetubuh dengan sengaja.
9. Tidak berniat puasa pada malam sebelumnya.

يجب مع القضاء للصوم الكفارة العظمى والتعزير على من أفسد صومه في رمضان يوما كاملا بجماع تام آثم به للصوم ويجب مع القضاء الإمساك للصوم في ستة مواضع: الأول في رمضان لافي غيره على متعد بفطره، والثاني على تارك النية ليلا في الفرض، والثالث على من تسحر ظانا بقاء الليل فبان خلافة أيضا، والرابع على من افطر ظانا الغروب فبان خلافه ايضا، والخامس على من بان له يوم ثلاثين من شعبان أنه من رمضان، والسادس على من سبقه ماء المبالغة من مضمضة واستنشاق

WAJIB KAFARAT (HUKUMAN)
Wajib beserta meng-qadla' bagi orang yang puasa yakni membayar kaffarah dan dilakukan ta'zir atas orang yang merusak (membatalkan) puasanya pada siang Ramadhan secara penuh dengan sebab jima'.
Wajib beserta meng-qadha' bagi orang yang puasa pada 6 tempat yaitu :
1. Pada bulan ramadlan bukan pada bulan yang lainnya karena sengaja membatalkan puasa.
2 . Meninggalkan (tidak berniat) niat puasa dimalam hari pada puasa fardhu.
3. Orang yang bersahur karena menyangka masih malam, namun dugaannya ternyata berbeda (sudah terbit fajar, penj).
4. Orang yang berbuka puasa karena menyangka telah terbenam matahari, namun faktanya menyelisihi dugaannya (matahari belum terbenam, penj).
5. Orang yang menyakini bahwa telah genap tanggal 30 bulan Sya'ban namun ternyata telah memasuki bulan Ramadlan.
6. Orang yang terlanjur menelan air ketika kumur-kumur atau (menghisap) dari air yang masuk dari hidung.

ORANG YANG DIPERBOLEHKAN TDK BERPUASA
Ada beberapa macam orang yang mendapat dispensasi tidak puasa, yaitu:
1. Orang yg sakit sesuai dengan petunjuk dokter.
a) Jika sakitnya tidak akan bisa sembuh secara medismaka hanya wajib membayar fidyah
b) Jika sakitnya bisa sembuh maka hanya perlu mengqodho' puasa
2. Wanita yang hamil dan sedang menyusui.

3. Musafir wajib mengqadha' puasa yang ditinggalkannya. Syarat syarat bepergian yang bisa tidak berpuasa:
a) harus 2 marhalah 86 kilo atau lebihb) bukan perjalanan maksiatc) harus berangkat sebelum adzan subuh d) waktu makan di tengah perjalanan harus niat melaksanakan rukhsoh
4. Orang lanjut usia yang tidak sanggup lagi berpuasa. Sebagai gantinya dia harus membayar fidyah setiap hari dengan memberi makan kepada satu orang miskin.

الإفطار في رمضان أربعة انواع: واجب كما في الحائض والنفساء، وجائز كما في المسافر والمريض ولاولاكما في المجنون، ومحرم كمن أخر قضاء رمضان تمكنه حتى ضاق الوقت عنه

MACAM IFTHAR (BERBUKA) RAMADHAN
Ifthar (berbuka) pada bulan ramadhan ada 4 macam :
1. Wajib pada orang haid dan nifas.
2. Jais (boleh) sebagaimana pada orang yang bepergian (safar) dan orang sakit.
3. Tidak wajib juga tidak pula jaiz/boleh bagi orang yang gila.
4. Haram sebagaimana orang yang mengakhirkan qadha' Ramadhan dimungkinkan untuk dikerjakan hingga tidak mencukupinya waktu mengqadha' tersebut.

وأقسام الإفطار أربعة: أيضا ما يلزم فية القضاء والفدية وهو اثنان: الأول الإفطار لخوف على غيرة، والثاني الإفطار مع تأخير قضاء مع إمكانه حتى يأتي رمضان آخر، وثانيها مايلزم فية القضاء دون الفدية وهو يكثر كمغمى علية، وثالثهما ما يلزم فيه الفدية دون القضاء وهوشيخ كبير، ورابعها لا ولا وهو المجنون الذي لم يتعد بجنونه

IFTHAR RAMADHAN
Bahawa pembagian ifthar/berbuka/makan atas bulan Ramadhan/puasa itu ada 4 perkara :
1. Wajib meng-qadha' dan membayar fidyah, ada 2 :
a. Ifthar karena mengkhawatirkan orang lain (seperti mengkhawatirkan janin/bayi dalam kandungan, penj).
b. Ifthar beserta mengakhirkan qadha' puasa sampai tiba Ramadhan berikutnya.

2. Wajib meng-qadha' tanpa membayar fidyah yaitu banyak seperti orang pingsan, ayan.
3. Wajib membayar fidyah tanpa wajib meng-qadha' puasa, yaitu seperti orang yang sangat tua.
4. Tidak wajib meng-qadha' dan tidak wajib membayar fidyah yaitu orang yang gila yang tidak disengaja.

الذي لا يفطِر مما يصل إلى الجوف سبعة أفراد: مايصل إلى الجوف بنسيان أو جهل أو إكراة وبجريان ريق بما بين أسنانه وقد عجز عن مجه لعذره وما وصل إلى الجوف وكان غبار طريق، وما وصل إلية وكان غربلة دقيق، أوذبابا طائرا أو نحوه

TIDAK MEMBATALKAN PUASA
Bahwasanya sesuatu yang tidak membatalkan puasa walaupun sampai sampai kerongga mulut, ada 7 macam :
1. Sesuatu yang masuk sampai kerongga mulut karena lupa.
2. Karena tidak tahu (jahil).
3. Karena terpaksa/dipaksa orang lain.
4. Karena air liur yang mengalir diantara gigi, sedangkan tidak mungkin bisa di keluarkan (meludah) karena adanya udzur(halangan).
5. Apa yang sampai pada rongga atas sesuatu yang berupa debu jalanan.
6. Apa yang sampai pada rongga atas sesuatu yang berupa berupa ayakan tepung.
7. Berupa lalat yang masuk ketika terbang, atau seumpamanya.
8. Mencium bau2an dan mencicipi makan sekedar tanpa di yakinkan masuk ke dalam tenggorokan hanya di hukumi makruh.

Sumber:
1. Kitab Safiinatun Najaah (Asy Syaikh Salim bin Smir Al Hadhromi)
2. KH A Nuril Huda (Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama)
3. Ust. Shulfi Alaydrus
4. Dokumen PISS-KTB

jika artikel ini bermanfaat bagi agan semua jangan lupa di share ke sosmed agan ya.....
Terima kasih sudah berkunjung jangan lupa balik lagi ya....

Wednesday, 27 April 2016

0

Mafahim: Puasa secara bahasa berarti: Menahan. Menurut istilah syara’  berarti menahan diri  dari sesuatu perkara yang membatalkan puasa, mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.

Dasar Wajib Puasa
Maksud Firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al Baqarah: 183)

Hikmah Puasa

Antara lain, menahan hawa nafsu, mengurangi syahwat, memberikan pelajaran bagi orang kaya untuk merasakan lapar sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang kepada fakir miskin dan menjaga dari maksiat.

Syarat Sah Puasa:

    Islam
    Berakal
    Bersih dari haid/ nifas
    Mengetahui waktu diperbolehkan untuk berpuasa

Tidak Sah puasa bagi orang kafir, orang gila walau pun sebentar, perempuan haid atau nifas dan puasa pada waktu yang diharamkan berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyriq. Adapun perempuan yang terputus haid atau nifasnya sebelum fajar, maka puasanya tetap Sah dengan syarat telah niat, sekali pun belum mandi sampai pagi.

Syarat Wajib Puasa:

    Islam: Puasa tidak wajib bagi orang kafir dalam hukum dunia, namun di akhirat mereka tetap akan diadzab karena kekafirannya. Adapun orang murtad, maka  wajib baginya mengqodho’ apabila ia kembali masuk Islam.
    Mukallaf (baligh dan berakal): Anak yang belum baligh tidak wajib puasa, namun orang tua wajib memerintahkan putra-putrinya berpuasa sejak kecil (7 tahun) dan memukul (sewajarnya) jika meninggalkan puasa saat berumur 10 tahun.
    Mampu mengerjakan puasa (bukan orang lansia atau orang sakit): Lansia yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh menurut medis wajib mengganti puasanya dengan membayar fidyah yaitu satu mud (sekitar 6,25 ons) makanan pokok (beras) untuk setiap harinya.
    Mukim: Tidak wajib bagi Musafir selama ia bepergian sejauh lebih dari 82 km, keluar dari batas kotanya sebelum fajar dan menetap di kota tujuan tidak lebih dari 4 hari.

Rukun-rukun Puasa:

1. Niat: (untuk puasa wajib maupun sunnah), mulai terbenamnya matahari hingga sebelum terbitnya fajar.

Niat (talaffud) puasa Ramadhan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

“SAYA NIAT MENGERJAKAN KEWAJIBAN PUASA BULAN RAMADHAN ESOK HARI PADA TAHUN INI KARENA ALLAH TA’ALA”.

Niat hendaknya dilakukan setiap malam hari selama bulan Ramadhan. Niat (rukun) dilakukan di dalam hati, tanpa niat (dalam hati) puasanya tidak Sah. Adapun mengucapkan/ talaffud adalah sunnah.

2. Menghindari perkara yang membatalkan puasa, kecuali jika lupa atau dipaksa atau karena kebodohan yang ditolerir oleh syari’at (jahil ma’dzur).

Jahil ma’dzur/ kebodohan yang ditolerir syari’at ada dua:

    a.  Hidup jauh dari ulama
    b.  Baru masuk Islam

Hal-hal yang Membatalkan Puasa:

    Masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka yang tembus ke dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan dua lubang qubul-dubur dengan disengaja, mengetahui keharamannya dan atas kehendak sendiri. Namun jika dalam keadaan lupa, tidak mengetahui keharamannya karena bodoh yang ditolerir atau karena dipaksa, maka puasanya tetap Sah.
    Murtad, yakni keluar dari Islam, baik dengan niat dalam hati, perkataan, perbuatan, walau pun perbuatan murtad tersebut sekejap saja.
    Haid, nifas dan melahirkan sekali pun sebentar.
    Gila meski pun sebentar.
    Pingsan dan mabuk (tidak disengaja) sehari penuh. Jika masih ada kesadaran sekali pun sebentar, puasanya tetap Sah.
    Bersetubuh dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.
    Mengeluarkan mani, baik dengan tangan, atau tangan istrinya, atau dengan berhayal, atau dengan melihat (jika dengan berhayal dan melihat itu dia tahu kalau akan mengeluarkan mani), atau dengan tidur berdampingan (bersenang-senang) bersama istrinya. Jika mani keluar dengan salah satu sebab di atas, maka puasanya batal.
    Muntah dengan sengaja.

Masalah-masalah yang Berkaitan dengan Puasa:

1. Suami-Istri

Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodho puasanya serta wajib membayar denda kaffarah udzma yaitu:

    Membebaskan budak perempuan yang islam.
    Jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.
    Jika tidak mampu, maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (sekitar 6,5 ons) dari makanan pokok.

Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki-laki saja, karena dengan masuknya kelamin laki-laki, sang wanita sudah menjadi batal puasanya.

2. Hukum Menelan Dahak.

    Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasanya.
    Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasanya.

Yang dimaksud batas luar tenggorokan menurut pendapat Imam Nawawi (yang mu’tamad) adalah makhroj huruf ha’ (ح) dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama, batas luar adalah makhroj huruf kho’ (خ) dan dibawahnya adalah batas dalam.

3. Menelan Ludah Tidak Membatalkan Puasa dengan Syarat:

    Murni (tidak tercampur benda lain)
    Suci
    Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan dalam mulut, sedangkan menelan ludah yang sudah berada pada bibir luar membatalkan puasa.

4. Hukum Masuknya Air Mandi ke Dalam Rongga Tanpa Sengaja:

    Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum’at atau mandi wajib (janabat) maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau dengan menyelam.
    Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan, maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.

5. Hukum Air Kumur yang Tertelan Tanpa Sengaja:

    Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu’, tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh).
    Jika berkumur biasa, bukan untuk kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.

6. Muntah atau Dalam Mulut Berdarah

Orang yang muntah atau dalam mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci. Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya dari sisa muntah, maka puasanya batal.

7. Membatalkan Puasa atau Tidak Niat

Orang yang sengaja membatalkan puasanya (alasan syar’i) atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (selayaknya orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodho puasanya.

8. Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:

A. WAJIB QODHO’ DAN MEMBAYAR DENDA

    Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.
    Mengakhirkan qodho’ puasanya hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada uzur.

B. WAJIB QODHO’ TANPA DENDA

    Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari
    Orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima’ (bersetubuh)
    Perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.

C. WAJIB DENDA TANPA QODHO’

    Berlaku bagi orang lanjut usia tidak mampu berpuasa.
    Orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, ia tidak mampu berpuasa.

D. TIDAK WAJIB QODHO’ DAN TIDAK WAJIB DENDA

    Berlaku bagi orang yang kehilangan akal/ gila yang permanen atau tidak mengalami kesembuhan.

Yang dimaksud DENDA di sini adalah FIDYAH, 1 mud (6,5 ons) makanan pokok daerah setempat (beras) untuk setiap harinya.

Hal-hal yang Disunnahkan dalam Puasa Ramadhan

    Menyegerakan berbuka puasa.
    Makan Sahur.
    Mengakhirkan sahur, dimulai dari tengah malam.
    Berbuka dengan kurma (ruthab) + dengan bilangan ganjil. Bila tidak ada kurma, dengan air zam zam/ air putih. Atau dengan makanan manis alami (yang belum tersentuh oleh api/ dimasak), misal: madu, kismis dan sejenisnya.
    Membaca doa saat berbuka puasa.
    Memberi makanan berbuka pada orang yang berpuasa.
    Mandi janabat sebelum terbitnya fajar bagi orang yang junub di malam hari.
    Mandi setiap malam di bulan Ramadhan.
    Menekuni sholat tarawih dan witir.
    Memperbanyak bacaan Al Qur’an dengan tadabbur.
    Memperbanyak amalan sunnah dan amal sholeh.
    Meninggalkan caci maki.
    Berusaha makan dari yang halal.
    Bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir.

HAL-HAL YANG DIMAKRUHKAN DALAM PUASA RAMADHAN

    Mencicipi makanan.
    Bekam (mengeluarkan darah).
    Banyak tidur dan terlalu kenyang.
    Mandi dengan menyelam.
    Memakai siwak setelah masuk waktu duhur.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PAHALA PUASA (MUHBITHAAT)

    Ghibah (gossip).
    Adu domba.
    Berbohong.
    Memandang hal-hal yang haram atau pun halal, namun dengan syahwat.
    Sumpah palsu.
    Berkata jorok atau melakukan perbuatan jelek.

Catatan tambahan dan soal-jawab seputar puasa.

Untuk menentukan awal Bulan Ramadhan dan 1 Syawwal (Lebaran Idul Fitri) dianjurkan mengikuti keputusan Pemerintah Pusat. Dalam hal ini adalah Majlis Ulama Indonesia (MUI), melalui sidang Itsbat, yang anggotanya terdiri dari pakar-pakar Islam yang kredibel dalam ilmu ru’yah maupun hisab. Dengan demikian umat Islam Indonesia dapat bersatu dan tidak terpecah belah.

    Soal: Bagaimana hukumnya orang yang berpuasa melakukan cek golongan darah, dengan sedikit melukai kulit?
    Jawab : Boleh dan Puasanya Sah.

    Soal : Bagaimana hukumnya orang yang berpuasa melakukan infus/ memasukan makanan melalui pembuluh darah?
    Jawab : Tidak Boleh dan Puasanya Batal.

    Soal : Bagaimana hukumnya berpuasa melakukan suntik atau bius lokal?
    Jawab : Boleh dan Puasanya Sah selama cairan tidak mengalir ke saluran makanan (pencernaan).

    Soal : Bagaimana hukumnya berpuasa melakukan donor darah atau mengambil darah untuk cek laboratorium termasuk hijamah (bekam)?
    Jawab : Hukumnya makruh dan Puasanya Sah.

Monday, 21 December 2015

Setiap Hewan Yang Haram Dimakan Apakah dihukumi Najis...?

0


Hukum Hewan Yang Tidak Boleh Dimakan
Hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya Seperti anjing dan babi, semua bagian tubuhnya, kotorannya dan sesuatu yang terlepas darinya najis. Adapun hewan selain keduanya dari binatang buas, burung, bighol dan keledai, menurut Imam Ahmad maka semuanya dihukumi najis begitu juga kotorannya, akan tetapi tetap dimaafkan jika najis yang melekat hanya sedikit dan dihukumi suci. Sedangkan binatang yang memiliki darah namun tidak mengalir maka semua bagian tubuh dan kotorannya dihukumi suci.
Sedangkan hewan yang memiliki darah tidak mengalir seperti lalat dan kumbang dan yang semisal dengan keduanya, maka mengenai kenajisannya ada dua pendapat;
Pendapat pertama, jika binatang tersebut mati di air yang sedikit atau banyak maka tidak membuat air tersebut najis, karena air tidak berubah dengannya. Adapun dalilnya adalah bahwasannya Rasulullah r memerintahkan lalat yang hinggap di air untuk menenggelamkan ke dalamnya, begitu juga beliau memerintahkan hal yang demikian pada makanan. Terkadang lalat tersebut mati di saat penenggelamnya, jika demikian maka air tersebut najis karena sengaja membinasakan hewan tersebut.
Pendapat kedua: jika binatang tersebut mati di tempat yang bisa menjadi najis dengannya maka di hukumi najis, karena hukum memakannya haram. Sedangkan jika binatang tersebut terjatuh di air dan tidak mati hingga dikeluarkan darinya maka air tersebut tidak menjadi najis. Adapun jika mati di dalamnya maka air tersebut menjadi najis seperti kumbang, lalat, tawon dan kutu dan hewan yang sejenisnya.
Imam Syafi'I berkata, "Tidaklah najis setiap manusia yang lahir dari anak keturunan adam dan begitu juga binatang yang ada, kecuali jika ada najis yang melekatnya. Maka setiap anak adam baik muslim atau kafir yang memasukan tanganya kedalam air atau binatang melata minum darinya maka tidak membuat air tersebut najis kecuali dua binatang yakni anjing dan babi. Adapun dalilnya adalah dari jabir beliau berkata, Rosulullah ditanya, apakah kita wudhu menggunakan sisa air yang dimimum oleh keledai Rosulullah menjawab,
نعم وبما أفضلت السباع كله
          "Ya, dengan bekas air yang diminum keledai, dan juga binatang buas semuanya tidak terkecuali."
            Setiap binatang yang masih hidup tidak najis meskipun hewan tersebut tidak boleh dimakan dagingnya, dan akan menjadi najis dengan kematiannya, bukankah engkau melihat bahwa keledai tersebut tidak haram untuk dinaiki sedangkan kain akan tersentuh daengan badannya, dan itu tidak membuat najis. Bahwasannya Rosulullah r sholat sunnah di atas punggung keledai ketika safar. Adapun anjing maka Rosulullah melarang untuk menjualnya dan memeliharanya kecuali untuk sebuah manfaat atau suatu kebutuhan maka dihukumi najis.sedangkan menjual binatang buas dan keledai tidaklah diharamkan dan boleh untuk memeliharanya.
Bulu dan Rambut Hewan Yang Tidak Boleh Dimakan
        Syaikhul islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa bulu anjing dan babi jika masuk ke dalam air, maka hal itu tidak mempengaruhi kesucian air tersebut menurut pendapat yang paling sahih. Air tersebut tetap suci menurut salah satu pendapat ulama yakni salah satu riwayat dari dua riwayat Ahmad dan ini merupakan pendapat yang kuat. Bahwasannya semua rambut, bulu, wol itu dihukumi suci baik yang melekat pada kulit hewan yang dagingnya boleh dimakan atau tidak baik melekat pada hewan yang masih hidup atau sudah mati.Sedangkan jika air tersebut telah berubah lantaran najis yang ada, maka harus dibersihkan sampai suci, jika air tersebut tidak berubah maka tidak perlu membersihkannya, sebagaimana telah dikatakan kepada Rasulullah r, "Sesungguhnya engkau berwudhu dari sumur bidho'ah, (sumur yang termasuki darah haid, daging-daging anjing dan bau yang tidak sedap? Maka Rasulullah bersabda,
الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ أَعْلَمُ
          "Air itu suci dan tidak ada sesuatu yang membuatanya menjadi najis menurut yang saya ketahui."


Air Seni Dan Tinja Hewan Yang Tidak Boleh Dimakan
            Air seni hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya, maka dimaafkan jika menempel di pakaian hanya sebesar uang dirham saja, jika lebih dari itu maka tidak di maafkan. Sedangkn kencing hewan yang dagingnya boleh dimakan maka boleh sholat jika terkena kencing tersebut dengan syarat tidak lebih mengenai 1/4 pakaian yang dikenakan.
Tinja dan air seni hewan yang tidak boleh dimakan, dihukumi najis. Bersandar kepada hadits Ibnu Masúd ra beliau berkata, Rosulullah r ketika itu sedang buang hajat. Kemudian beliau menyuruh saya untuk mengambilkan tiga batu, dan saya hanya menemukan dua batu sedangkan batu yang ketiga saya tidak mendapatkannya. Kemudian saya mengantinya dengan mengambil kotoran dan saya serahkan kepada Rosulullah r. Kemudian beliau mengambil dua batu tersebut dan membuang kotorannya. Seraya berkata, ‘Ini Najis’ (H.R. Bukhari dan Ibnu Majah serta Ibnu Khuzaimah)
 Sedangkan kotoran burung semuanya baik yang boleh dimakan dagingnya atau tidak jika tercampur di air, maka air akan menjadi najis, karena akan menjadi basah dengan air. Ar-Rabi' berkata, "Keringat orang nasrani, orang yang junub dan orang yang haid suci, begitu juga keringatnya orang majusi dan keringat yang keluar dari binatang melata. Adapun bekas air yang diminum binatang melata dan binatang buas semuanya suci kecuali anjing dan babi.
Air Mani Hewan Yang Tidak Boleh Dimakan
            Air mani selain manusia apakah dihukumi najis, maka mengenai hal ini ada tiga pendapat:
  1. semuanya suci kecuali air mani anjing dan babi, karena merupakan hasil produksi hewan yang suci sebagaimana awal mulanya. Hal itu seperti telur, air seni manusia.
  2. Semuanya najis, karena merupakan sari pati dari makanan. Adapun air seni manusia dihukumi suci karena untuk menghormatinya dan dan memuliakan keberadaanya dan ini tidak berlaku untuk selain manusia.
  3. Semua binatang yang boleh dimakan dagingnya maka air maninya suci sebagaimana air susunya. Sedangkan hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya maka air maninya najis sebagaimana air susunya.
Dan yang pendapat yang shahih ialah semua binatang suci semuanya kecuali anjing dan babi dan yang menshahihkan ialah Syaikh Abu Hamid, Albandanijiy, Ibnu Syiba’, As-Syasyi dan selain mereka. Adapun Imam Rofií mengatakan bahwa semuanya najis secara mutlak.
Air Susu Hewan Yang Tidak Boleh Dimakan
            Air susu hewan yang dagingnya tidak boleh dimakan maka mengenai hal ini ada tiga pendapat:
  1. Adapun yang shahih dan yang paling mashur bahwasannya air susu tersebut najis.
  2. Air susunya suci dan dihalalkan untuk meminumnya. Ashabuna berkata, Jika kita  katakan air susunya najis maka tidak diperbolehkan untuk menjualnya. Al Mutawaliy dan yang lainnya berkata, jika kita katakan suci maka diperbolehkan untuk meminumnya dan boleh untuk menjualnya.
  3. Air susunya suci dan tidak boleh meminumnya, jika didapati ada manfaat yang tertentu maka boleh menjualnya, kalau tidak maka tidak boleh menjualnya. 
Kulit Hewan Yang Tidak Boleh Dimakan
            Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata, kulit bangkai jika disamak maka akan menjadi suci. Dalam hal ini ada dua pendapat yang mashur di kalangan ulama.
Pertama, kulit tersebut menjadi suci dengan disamak. Ini merupakan pendapat mayoritas para ulama seperti Abi Hanifah, Imam Syafií dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya.
Kedua, kulit tersebut akan menjadi suci, ini merupakan pendapat yang mashur di dalam mazhab Malik. Dengan demikian diperbolehkan untuk menggunakan kulit yang disamak untuk membawa air bukan cairan karena air tidak menjadi najis dengannya. Ini merupakan pendapat yang paling mashur dari dua riwayat Ahmad.
Adapun dalil yang menguatkan bahwa kulit yang disamak itu menjadi suci adalah sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas, beliau mendengar Rosulullah bersabda,
إذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ
            “Jika kulit bangkai disamak maka  menjadi suci”
Bangkai Hewan Yang Tidak Boleh Dimakan
a.         Bangkai hewan yang memiliki darah namun tidak mengalir, seperti lalat, tawon, kumbang dan semut dan yang semisalnya maka tidak najis. Sebagaimana sabda Rosulullah r,
إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَطْرَحْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ شِفَاءً وَفِي الْآخَرِ دَاءً
           “Jika ada lalat hinggap didalam tempayan salah seorang di antara kalian, maka tengelamkanlah kemudian dibuang. Karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat obat dan pada sayapnya lain terdapat penyakit” (H.R. Bukhari)
b.        Tulang dari bangkai hewan, tanduknya, kukunya, rambutnya serta bulunya semuanya dihukumi suci. Az-Zuhri berkata mengenai tulang bangkai seperti gajah dan yang lainnya, “ Saya mendapati kebanyakan para ulama salaf memakai sisir yang terbuat dari tulang tersebut dan meminyaki dengannya, dan mereka melihat hal tersebut sesuatu yang tidak mengapa.”

Friday, 18 December 2015

SOAL JAWAB SEPUTAR FIQH NISA (Wanita)

0




Pertanyaan pertama
Jika seorang wanita mengalami keguguran, maka darah yang keluar darinya termasuk darah nifas ataukah darah istihadlah?

Jawaban
Dalam masalah ini para fuqaha telah menyebutkan ketentuan khusus seperti pernyataan berikut ini:
  1. Jika darah yang ia lihat itu keluar setelah keluarnya sesuatu yang berbentuk janin manusia maka itu adalah darah nifas, tetapi jika sesuatu yang keluar itu masih berbentuk gumpalan darah (nuthfah atau ‘alaqah) maka itu bukanlah darah nifas. (Al-Mughni ma’a syarhil kabir 1/361). pendapat ini berdasarkan hadits dari Ibnu Mas’ud riwayat Bukhari tentang tahapan-tahapan penciptaan manusia dalam rahim.
  2. adapun mengenai darah yang mungkin keluar sebelum sebuah kelahiran normal maka jika disertai dengan rasa sakit waktu melahirkan atau saat kontraksi maka itu adalah darah nifas sedangkan jika tidak demikian maka itu bukanlah darah nifas. Majduddin Abul Barakat Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Apa yang ia lihat -yang keluar dari rahim- dengan disertai rasa sakit maka itu adalah nifas’, maksudnya adalah kontraksi dengan disertai dorongan (ngejan), jika tidak demikian maka bukan darah nifas. (Majmu’ fatawa Ibnu Utsaimin 4/327).
Masalah ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan shalat seorang wanita, jika yang keluar itu adalah darah nifas maka ia tidak wajib melaksanakan shalat, tapi jika darah yang keluar selain itu (Istihadlah) maka ia tetap wajib melakukan shalat sesuai dengan kondisinya.

Pertanyaan yang kedua
Apakah benar wanita yang Mustahadlah makruh melakukan shalat sunnah?


Jawaban
            Sepengetahuan kami para fuqaha tidak ada yang menyatakan pendapat demikian, selagi seorang wanita mampu melaksanakannya maka silahkan, tapi memang melakukan shalat sunnah bagi seorang yang mustahadlah sangatlah sulit mengingat kondisinya yang selalu mengeluarkan darah, jangankan shalat sunnah terkadang shalat wajib saja sangat sulit dikerjakan karena kondisinya yang demikian. Wanita yang Mustahadlah hendaknya berwudlu setiap kali hendak shalat berdasarkan hadits dari Aisyah Radliyallahu ‘anha riwayat Bukhari.







Pertanyaan yang ketiga
Apakah hukum memasang tindik di telinga seorang perempuan yang masih kecil?


Jawaban
Menindik anak putri yang masih kecil dengan anting-anting emas atau yang lainnya diperbolehkan dan tidak ada larangannya karena hal itu merupakan bagian dari berhiasnya seorang wanita dan merupakan sesuatu yang fitrah baginya kendati ada sedikit rasa sakit. Wanita muslimah pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menggunakan perhiasan emas di telinga mereka (anting-anting) sebagaimana sebuah riwayat dengan lafadz dari Bukhari dari Ibnu Abbas Radliyallahu’anhu berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk bersedekah kemudian aku melihat mereka (para muslimah) melepaskan perhiasan mereka di telinga dan leher mereka’.
(lihat Fatwa lajnah Daimah lil Buhuts Ilmiah wal Ifta’ fatwa no.9216  7/84 atau fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah 532)


Pertanyaan keempat
bagaimana hukumnya memotong bulu mata bayi agar bisa tumbuh lebih panjang?


Jawaban
Tidak diperbolehkan bagi seorang wanita memotong bulu matanya baik sedikit atau banyak, baik ketika masih kecil atau dewasa karena ada larangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah itu.
َعن ابن مسعود رضي الله عنه قالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ النَّامِصَةِ وَالْوَاشِرَةِ وَالْوَاصِلَةِ وَالْوَاشِمَةِ إِلَّا مِنْ دَاءٍ....رواه أحمد
Dari Ibnu Mas’ud Radliyallahu ‘anhu berkata aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang wanita mencukur bulu mata, meruncingkan gigi, menyambung rambut, mentato tubuhnya kecuali karena sebab penyakit…HR.Ahmad

Dalam hadits yang lain disebutkan
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ لِخَلْقِ اللَّهِ...رواه أبو داود
Dari Ibnu Mas’ud Radliyallahu ‘anhu berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang mentato dan minta ditato, minta dipotong bulu matanya, merenggangkan giginya agar kelihatan cantik, dan merubah ciptaan Allah….HR.Abu Dawud
            Sedangkan untuk bulu anggota tubuh selain mata diperbolehkan untuk dicukur dan dipotong menurut kesepakatan para fuqoha.
(lihat Fatwa lajnah Daimah lil Buhuts Ilmiah wal Ifta’ fatwa no.4962  7/160 atau fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah 510-511).
Soal kelima
            Jika ada pasangan suami istri menikah dalam keadaan kafir kemudian keduanya masuk Islam, apakah pernikahan mereka harus diulang?


Jawaban
            Jika pasangan suami istri masuk Islam maka pernikahan mereka sah dan tidak perlu mengulangi akadnya lagi karena hal itu juga pernah terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana riwayat yang disebutkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Abbas Radliyallahu 'anhu:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا جَاءَ مُسْلِمًا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ جَاءَتْ امْرَأَتُهُ مُسْلِمَةً بَعْدَهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا قَدْ كَانَتْ أَسْلَمَتْ مَعِي فَرَدَّهَا عَلَيْهِ
Dari Ibnu Abbas Radliyallahu 'anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang masuk Islam datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam kemudian setelah itu datanglah istrinya yang juga telah masuk Islam, lalu laki-laki tadi berkata, ‘Ya Rasululllah dia (istriku) telah masuk Islam bersamaku’, kemudian beliau mengembalikan istrinya kepadanya (tanpa ada akad nikah lagi). (Al-Mughni 10/7-8)
            Kejadian ini banyak terjadi kepada para sahabat ketika mereka masuk Islam beserta keluarga mereka, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan mereka untuk mengulangi akad pernikahan mereka.


Wallahu A’lam bish shawab
Wallahul Muwafiq ila thariqil khairi wash shalah



Refrensi
Fatawa Mar’ah Muslimah  Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiah Wal Ifta’
Madza Taf’al fil Haalatit Taliyah (Fiqh Darurat) Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Munajjid
Risalatun fid Dima’ Ath-Thabiiyyah lin Nisa’ Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin terbitan Darul Wathan 1410H
Fatawa lajnah Daimah lil Buhuts Ilmiah wal Ifta’.
Al-Mughni  Ibnu Qudamah







Friday, 23 October 2015

Haramkah Lisitin dalam Produk Makanan

0



Haramkah Lisitin dalam Produk Makanan

Pertanyaan.
Melalui rubrik as'ilah ini, kami ummahat pondok pesantren nurul hadid, sedong, cirebon ingin menanyakan tentang lesitin yang banyak tertulis pada komposisi produk-produk makanan berkaitan dengan adanya VCD Ust. Syaiful Rahmat dari Bandung yang menyatakan keharamannya karena dzat tersebu berasal dari minyak babi. Lebih jelas kami tanyakan:
1.      Apa dan bagaimana lesitin itu sebenarnya?
2.      Apakah bias dikatakan "shahih" informasi dari VCD tersebut?
3.      Bagaimana kita mensikapinya?
Jawaban.

1.      sebagaimana yang diikutip dalam Republika 18 Juni 2004. Lesitin adalah bahan untuk pengemulsi makanan yang pada umumnya berasal dari tumbuhan. Paling banyak lesitin berasal dari kedelai, ada juga dari biji bunga matahari serta jagung. Lesitin yang berasal dari tumbuhan ini disebut lesitin saja.
Ada pula lesitin soya kalau lesitin itu berasal dari kedelai. Dalam pembuatannya, melibatkan proses ekstraksi yang bertujuan untuk memperoleh minyak, baik secara fisik (pressing) maupun menggunakan solven organik. Hasil akhirnya adalah minyak kasar. Lalu minyak kasar ini dimurnikan yang melibatkan sejumlah proses di dalamnya. Salah satunya adalah proses yang disebut dengan degumming. Dari proses inilah lesitin kasar didapatkan. ''Dengan demikian sebenarnya lesitin bisa merupakan hasil samping dari industri minyak makan,'' kata Anton Apriyantono, auditor LP POM MUI. Ia menambahkan lesitin kasar ini kemudian melalui beberapa proses lagi untuk mendapatkan lesitin standar. Yaitu melalui proses standarisasi, pemurnian, pemilihan, dan blending.
Perlakuan lesitin ternyata juga tak sampai disini. Lesitin standar yang telah ada, dimodifikasi secara kimia dan secara enzimitas (hidrolisis( Salah satu enzim yang digunakan secara komersial dalam jumlah besar adalah enzim fosfolipase A2. Menurut Anton, enzim ini berasal dari pankreas babi. Langkah kedua dilakukan fraksinasi. Untuk melakukan hal itu biasanya digunakan aseton atau etanol (alcohol). Kemudian dilakukan pencampuran bisa dilakukan dengan lemak maupun minyak. Oleh karenanya, jelas Anton, masyarakat memang harus memilih coklat yang telah jelas kehalalannya. Artinya, membeli produk yang telah mendapatkan sertifikat halal. Pasalnya, masyarakat tak akan mampu memeriksa sendiri kehalalan suatu produk pangan. Sebuah lembaga yang berwenanglah yang mampu untuk melakukan hal itu. ''Langkah bijak adalah dengan memilih produk yang telah bersertifikat halal,'' tandas Anton Apriyantono.
Lesitin yang biasanya diperoleh dengan cara ekstraksi kemudian bisa diperlakukan lebih lanjut dimana sebagian ada yang diproses dengan menggunakan enzim fosforilase A yang berasal dari hewan (statusnya syubhat karena tidak jelas hewannya apa dan cara penyembelihannya bagaimana). Hal ini dilakukan agar diperoleh lesitin dengan sifat-sifat pengemulsi yang diinginkan.
Sebagian lagi ada yang difraksinasi lebih lanjut dengan menggunakan etanol (alkohol) sehingga perlu diketahui berapa sisa alkohol dalam lesitin untuk memastikan statusnya. Dengan informasi ini bisa dipahami jika kita tidak bisa memastikan kehalalan lesitin yang ada dalam suatu produk pangan, demikian pula kepastian kehalalan dari banyak ingredien pangan lainnya. Oleh karena itu kita harus menghindari produk pangan (hasil produsen industri besar) yang tidak ada label halalnya karena secara umum produk pangan itu menjadi syubhat.

  1. Dakwah dapat dilakukan dengan banyak sarana terlebih lagi dijaman yang serba modern ini, maka sarananya semakin tidak terbatas pula, salah satu sarana dalam berdakwah adalah wasailul I'lam (sarana media) yang salah satunya adalah menggunakan sarana Audio Video (AV) yang dalam hal ini adalah CD. Maka boleh-boleh saja menggunakan sarana ini dalam berdakwah. Dan jika kita tidak menggunakan sarana ini kita akan kalah dalam meramaikan persaingan dakwah yang semakin gencar yang arah tujuannya tidak jelas. Wallahu'alam
  2. Dalam mensikapi berbagai pernyataan dengan menggunakan berbagai sarana, hendaknya kita harus bisa memilah-milah dan ekstra hati-hati dalam menilai sebuah informasi yang ada. Wallahu 'alam.


http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html