Saturday, 21 September 2013

Pengertian Kalimat Isti’adzah atau Ta'awudz

0

Al Isti’adzah berarti permohonan kepada Allah
Subhanahu Wa Ta’ala dari setiap yang jahat. Al
’Iyadzah (permohonan pertolongan) dalam usaha
menolak kejahatan, sedangkan Al Layadzu
(permohonan pertolongan) dalam upaya
memperoleh kebaikan.
A’udzubillahi minasy syaithanir rajim berarti “Aku
memohon perlindungan kepada Allah dari setan
yang terkutuk”, agar ia tidak membahayakan
diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau
menghalangiku untuk mengerjakan apa yang Dia
perintahkan. Atau agar ia tidak menyuruhku
mengerjakan apa yang Dia larang, karena setan
itu tidak ada yang bisa mencegahnya untuk
menggoda kecuali Allah.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala
menyuruh manusia agar menarik dan membujuk
hati setan jenis manusia dengan cara
menyodorkan suatu yang baik kepadanya supaya
dengan demikian dia berubah tabiatnya dari
kebiasannya mengganggu orang lain. Selain itu,
Allah juga memerintahkan untuk memohon
perlindungan kepada-Nya dari setan jenis jin,
karena dia tidak menerima pemberian dan tidak
dapat dipengaruhi dengan kebaikan, sebab
tabiatnya jahat dan tidak ada yang dapat
mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang
menciptakannya.
Inilah makna yang terkandung dalam tiga ayat Al
Qur’an. Pertama, firman-Nya dalam surat Al A’raf
ayat 199 yang artinya, “Jadilah engkau pemaaf
dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan dan
berpaling dari orang-orang yang bodoh.”
Makna di atas berkenaan dengan muamalah
terhadap musuh dari kalangan manusia.
Kemudian, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman
yang artinya, “Dan jika kamu ditimpa sesuatu
godaan, maka berlindunglah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (Al A’raf: 200) . Berlindung kepada
Allah maksudnya adalah membaca a’udzubillahi
minasy syaithonir rajim.
Dalam surat Al Mukminun Allah Subhanahu Wa
Ta’ala berfirman yang artinya, “Tolaklah
perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik.
Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.
Dan katakanlah: ‘Ya Rabb-ku aku berlindung
kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku
berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabb-ku, dari
kedatangan mereka kepadaku.” (Al Mukminun:
96-98).
Dan dalam surat Fushshilat ayat 34-36 Allah
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih
baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan
antara dia permusuhan seolah-olah telah menjadi
teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu
tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-
orang yang sabar dan tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang mempunyai
keberuntungan yang besar. Dan jika setan
mengganggumu dengan suatu gangguan, maka
mohonlah perlindungan kepada Allah.
Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.”
Dalam bahasa Arab, kata syaithan (setan) berasal
dari kata syathan, berarti jauh. Jadi, syaitan itu
tabiatnya jauh dari tabiat manusia, dan dengan
kefasikannya dia sangat jauh dari segala macam
kebaikan.
Ada juga yang mengatakan bahwa kata syaitan itu
berasal dari kata syata (terbakar) , karena ia
diciptakan dari api. Dan ada juga yang
mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar,
tetapi makna pertama yang lebih benar.
Menurut Sibawaih, bangsa Arab bisa mengatakan
tasyaithana fulan, jika fulan itu berbuat seperti
perbuatan setan. Jika kata syaitan itu berasal dari
kata syatha , tentu mereka mengatakan tasyaith
yang berarti jauh. Oleh karena itu, mereka
menyebut syaithan untuk setiap pendurhaka, baik
jin, manusia, maupun hewan.
Berkenaan dengan hal itu Allah berfirman yang
artinya, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-
tia nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis)
manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka
membisikkan kepada sebagian yang lain
perkataan-perkataan yang ndah-indah untuk
menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki,
niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka
tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-
adakan.” (Al An’am: 112).
Dalam buku Musnad Imam Ahmad, disebutkan
hadis dari Abu Dzar radhiallahu anhu , Rasulullah
bersabda yang artinya, “Wahai Abu Dzar,
mohonlah engkau kepada Allah perlindungan dari
setan-setan dari jenis manusia dan jin.” Lalu
kutanyakan, “Apakah ada setan dari jenis
manusia?” “Ya,” jawab beliau.
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Dzar,
katanya, Rasulullah bersabda, “Yang memotong
shalat itu adalah wanita, keledai, dan anjing
hitam.” Kemudian kutanyakan, “Ya Rasulullah,
mengapa anjing hitam dan bukan anjing merah
atau kuning?” Beliau menjawab, “Anjing hitam itu
adalah setan.”
Ar Rajim adalah berwazan fa’il (subjek), tetapi
bermakna maf’ul (objek) berarti bahwa setan itu
terkutuk dan terusir dari semua kebaikan,
sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala
yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah
menghiasi langit yang dekat dengan bintang-
bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-
alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi
mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Al
Mulk: 5).
Tafsir Isti’adzah dan Hukum-hukumnya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala befirman yang artinya,
“Jika kamu membaca Al Qur’an, maka hendaklah
kamu minta perlindungan kepada Allah dari setan
yang terkutuk. sesungguhnya setan itu tidak ada
kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan
bertawakal kepada Rabbnya. Sesungguhnya
kekuasaannya (setan) itu hanyalah atas orang-
orang yang mengambilnya menjadi pemimpin dan
atas orang-orang yang mempersekutukannya
dengan Allah.” (An Nahl: 98-100).
Yang masyhur menurut jumhurul ulama bahwa
isti’adzah dilakukan sebelum membaca Al Qur’an
guna mengusir godaan setan. Menurut mereka,
ayat yang berbunyi, (yang artinya) “Jika kamu
hendak membaca Al Qur’an, maka hendaklah
kamu minta perlindungan kepada Allah dari setan
yang terkutuk,” artinya jika kamu hendak
membaca. Sebagaimana firman-Nya, (yang
artinya) “Jika kamu hendak mendirikan shalat,
maka basuhlah wajah dari kedua tangnmu.” (Al-
Maidah: 6), artinya jika kalian bermaksud
mendirikan shalat.
Penafsiran seperti itu didasarkan pada beberapa
hadis dari Rasulullah. Imam Ahmad meriwayatkan
dari Abu Sa’id Al Khudri, katanya, jika Rasulullah
hendak mendirikan shalat malam, maka beliau
membuka shalatnya dan bertakbir seraya
mengucapkan, “Subhaanaka Allahumma
wabihamdika wa tabaa raka…… ……………” ( Maha
Suci Engkau, ya Allah, dan puji bagi-Mu. Maha
Agung nama-Mu dan Maha Tinggi kemuliaan-Mu.
Tidak ada ilah yang haq melainkan Engkau).
Kemudian beliau mengucapkan, “ La ilaha
illallah” ( tidak ada ilah yang haq kecuali Allah)
sebanyak tiga kali.
Setelah itu beliau mengucapkan, “Aku berlindung
kepada Allah yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari
godaan, tipuan, dan hembusannya.”
Hadis ini diriwayatkan juga oleh empat penyusun
kitab As Sunan dari riwayat Ja’far bin Sulaiman,
dari Ali bin Ali Ar Rifa’i, At Tirmizi mengatakan
bahwa hadits ini merupakan yang paling masyhur
dalam masalah ini. Dan, kata Al Hamz ditafsirkan
sebagai cekikan (sampai mati), an nafkh sebagai
kesombongan, dan an nafts sebagai syair.
Al Bukhari meriwayatkan dari Sulaiman bin
Shurad, katanya, “Ada dua orang yang saling
mencela di hadapan Rasulullah saw, sedang kami
duduk di hadapan beliau. Salah seorang dari
keduanya mencela lainnya dalam keadaan marah
dengan wajah yang merah padam. Maka
Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya aku akan
mengajarkan suatu kalimat yang jika ia
mengucapkannya, niscaya akan hilang semua yang
dirasakannya itu. Jika ia mengucapkan,
‘ A’udzubillahi minasy syaithanir rajim ’ .”
Kemudian para sahabat berkata kepada orang itu,
“Tidakkah engkau mendengar apa yang
disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam?” Orang itu menyahut, “Sesungguhnya
aku bukanlah orang yang tewas.”
Hadis di atas juga diriwayatkan bersama Imam
Muslim, Abu Dawud, dan An Nasa’i, melalui
beberapa jalan dari Al A’masy.
Catatan Penting
Jumhurul ulama berpendapat bahwa isti’adzah itu
sunnah hukumnya dan bukan suatu kewajiban,
sehingga tidak berdosa bagi orang yang
meninggalkannya. Diriwayatkan dari Imam Malik,
bahwasannya ia tidak membaca ta’awudz dalam
mengerjakan shalat wajib.
Dalam kitab Al Imla’ , Imam asy-Syafi’i
mengatakan, “Dianjurkan membaca ta’awudz
dengan jahr, tetapi jika dibaca dengan sirri juga
tidak apa-apa.” Sedangkan dalam kitab Al Umm,
beliau mengatakan, diberikan pilihan, boleh
membaca ta’awudz, boleh juga tidak. Dan jika
orang yang memohon perlindungan itu membaca
A’udzubillahi minasy syaithanir rajim ’, maka
cukuplah baginya.
Menurut Abu Hanifah dan Muhammad, ta’awudz
itu dibaca di dalam shalat untuk membaca Al
Qur’an. Sedangkan Abu Yusuf berpendapat,
bahwa ta’awudz itu justru dibaca untuk shalat.
Berdasarkan hal ini, seorang makmum hendaklah
membaca ta’awudz dalam shalat ‘Id setelah
takbiratul ihram dan sebelum membaca takbir-
takbir ‘Id. Dan menurut jumhurul ulama, ta’awudz
itu dibaca setelah takbir sebelum membaca Al
Fatihah atau surat Al Qur’an.
Di antara manfaat ta’awudz adalah untuk
menyucikan dan mengharumkan mulut dari kata-
kata yang tidak mengandung faedah dan buruk.
Ta’awudz ini digunakan untuk membaca firman-
firman Allah. Artinya, memohon pertolongan
kepada Allah sekaligus memberikan pengakuan
atas kekuasann-Nya, kelemahan sebagai hamba,
dan ketidakberdayaannya dalam melawan musuh
yang sesungguhnya (setan), yang bersifat
batiniyah, yang tidak ada orang yang mampu
menolak dan mengusirnya kecuali Allah yang telah
menciptakannya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang
artinya, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu
tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah
Rabbmu sebagai penjaga.” (Al Isra’: 65).
Dan, para malaikat telah turun untuk memerangi
musuh dari kalangan manusia. Barangsiapa yang
dibunuh oleh musuh yang bersifat lahiriyah yang
berasal dari kalangan manusia, maka ia meninggal
sebagai syahid. Barangsiapa dibunuh oleh musuh
yang bersifat batiniah, maka sebagai tharid . Dan
barangsiapa yang dikalahkan oleh musuh manusia
biasa, maka ia akan mendapatkan pahala, dan
barangsiapa dikalahkan oleh musuh batini (setan),
maka ia tertipu atau menanggung dosa. Karena,
setan dapat melihat manusia, sedangkan manusia
tidak dapat melihatnya, maka ia memohon
perlindungan kepada Rabb yang melihat setan,
sedang setan itu tidak melihat-Nya.
Wallahu a’lam bish shawab

0 komentar:

Post a Comment

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html