PERISTIWA-PERISTIWA PENTING ANTARA-PASCA PERANG UHUD DAN PERANG KHONDAK
Bagian 1
(MISI RAJI’ DAN TRAGEDI BI’RU MA’UNAH)
•
Muqoddimah
Pada
bulan Safar tahun ke 4 H, beberapa utusan dari kabilah Adhal dan Qarah datang
menghadap Rasulullah saw menginformasikan bahwa berita tentang Islam telah
sampai kepada mereka.Mereka
meminta agar diutus beberapa orang bersama mereka untuk mengajarkan agama dan
Al-Qur’an.
Rasulullah
mengirim bersama mereka beberapa orang
(sebagai dai).
Di
antara para dai tersebut adalah Mursyid bin Abi Mursyid, Kholid bin Al-Bakir,
Ashim bin Tsabit, Khubab bin ‘Ady, Zaid bin Dashinah, Abdullah bin Thariq.
Rasulullah
menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai Amir mereka.
•
PERISTIWA RAJI’
•
Sesampainya para duta
dakwah dan utusan Bani Adhol dan Qorah di Raji’ (sumber air milik bani Hudzail
di wilayah Hijaz), para utusan kabilah tersebut mengkhianati para
sahabat-sahabat Rasulullah saw.
•
Mereka berkata : “Kalian
harus berjanji kepada kami jika tidak ingin kami bunuh”. Sebagian sahabat
rasulullah saw berkata : “kami tidak akan menerima ikatan atau perjanjian dari
seorang musyrik”. Maka para utusan kabilah tersebut menyerang mereka hingga
tewas.
•
Zaid bin Datsinah, Khubaib
bi ‘Ady dan Abdullah bin Thariq, meraka menyerah. Dan orang-orang musyrik
menjadikannya sebagai tawanan.
•
SIKAP KAUM MUSYRIKIN
TERHADAP TAWANAN
TERHADAP TAWANAN
•
Abdullah bin Thariq
terbunuh diperjalanan ketika melarikan diri.
•
Khubaib bin ‘Ady dijual
kepada kaum Quraisy dan dibeli oleh Hujair bin Abi Ihab at-Tamimi. Untuk
disiksa atau dibunuh sebagai balas dendam atas ayahnya.
•
Sedangkan Zaid bin Datsinah
dibeli oleh Shafwan bin Umayah untuk dibunuh sebagai balas dendam atas ayahnya,
yaitu Umayah bin Khalaf. Zaid dibawa
keluar dari daerah Haram.
•
Segerombolan kaum Quraisy
datang mengerumuninya, termasuk di dalamnya Abu Sufyan bin Harb.
•
DIALOG ABU SUFYAN DENGAN
ZAID
•
Abu Sufyan berkata kepada
Zaid, “Semoga Tuhan mengutukmu wahai
Zaid,! Apakah engkau suka Muhammad berada di tempat kami pada saat ini untuk
menggantikan tempatmu dan engkau berada di tengah keluargamu ? Zaid menjawab,
Demi Allah ! Aku tidak suka jika Muhammad berada di tempatnya saat ini, terkena
duri yang akan menyakitinya, sedangkan aku duduk di tengah keluargaku, Abu
Sufyan berkata, Aku tidak pernah melihat
ada orang yang mencintai orang lain seperti para sahabat Muhammad mencintai
Muhammad”. Setelah itu zaid dibunuh.
•
SYAIR KHUBAIB BIN ‘ADY
•
Aku tidak peduli ketika
dibunuh dalam Islam
•
Dengan cara apapun disiksa
anggota tubuh ini
•
Hal itu berada pada Dzat
Allah dan kehendak-Nya
•
Dan akan memberkati anggota
tubuh yang lumpuh ini
•
Permintaan Khubaib bin ‘Ady
•
Ketika Khubaib diseret
keluar hendak disalib, ia berkata kepada mereka, “Bagaimana menurut kalian jika
membiarkanku melakukan shalat dua rekaat. Setelah itu lakukanlah apa yang
kalian inginkan. Mereka berkata,
terserah dirimu, lakukanlah ! Lalu Khubaib melakukan shalat dua rekaat sangat
sempurna dan sangat baik.
•
Kemudian ia menghadap musuh
dan berkata, “Demi Allah ! Seandainya kalian mengira bahwa aku sengaja mengulur
waktu karena takut mati, niscaya aku salat yang lebih baik lagi.
•
TRAGEDI BI’RU MAUNAH
•
Rasulullah mengutus
beberapa orang sahabat dalam rangka memenuhi permintaan Amir bin Malik ke
wilayah Nejed untuk mendakwahkan Islam kepada penduduknya.
•
Para utusan yang terdiri
dari 70 laki-laki pilihan itu berangkat sampai tiba di Sumur Maunah. Beberapa
kabilah dari Bani Sulaim mengerumuninya dan mengepung lokasi tersebut lalu
menyerangnya.
•
Semua sahabat Rasulullah
terbunuh kecuali Kaab bin Zaid. Ia hidup lama hingga terbunuh sebagai syahid
dalam perang Khandaq.
•
Setelah peristiwa tersebut
sampai kepada Rasulullah saw, Beliau sangat sedih dan melakukan qunut Nazilah
mendoakan kecelakaan kabilah-lkabilah yang membunuh para sahabat pilihan
beliau.
•
BEBERAPA IBRAH
•
Tragedi Raji’ dan Bi’ru
Ma’unah menunjukkan keterlibatan dan partisipasi seluruh kaum muslimin dalam
tanggung jawab dakwah dan menjelaskan yang haq kepada manusia.
•
Dua tragedi di atas
menunjukkan kebencian kaum musyrikin kepada kaum muslimin begitu besar.
•
Sikap Zaid menunjukkan
betapa cintanya para sahabat kepada rasulullah saw.
•
Apa yang terjadi pada
Khubaib memberi isyarat bahwa karamah adalah realita. Beliau begitu tegar saat
disiksa oleh orang-orang musyrikin.
•
PENGUSIRAN
ORANG YAHUDI BANI NADHIR
ORANG YAHUDI BANI NADHIR
•
LANDASAN SYAR’I
•
هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ
أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ
يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ
فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ
الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ (2) وَلَوْلَا أَنْ كَتَبَ اللَّهُ
عَلَيْهِمُ الْجَلَاءَ لعَذَّبَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ
عَذَابُ النَّارِ (3)
2. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara
ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama[1463].
Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa
benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka
Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka
sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka
memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan
orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai
orang-orang yang mempunyai wawasan.
3. Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan
pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah mengazab mereka di dunia. Dan
bagi mereka di akhirat azab neraka
•
Mengenal Sifat-Sifat Orang Yahudi
•
Sombong
•
وَقَالَتِ
الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ
▫
Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan:
“Kami ini adalah anak-anak Allah dan
kekasih-kekasih-Nya….” (al-Maidah: 18)
•
Menyalahgunakan Ilmu
•
فَوَيْلٌ
لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ
عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا
كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79)
▫
Maka Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang
yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya;
"Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang
sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat
apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi
mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. 2:79
•
Mengingkari Janji
(Kasus Bani Qunaiqa, Bani Quraidhah dan Bani Nadhir)
•
PROFIL YAHUDI BANI NADHIR
•
Yahudi Bani Nadhir adalah
sekelompok orang Yahudi yang bertetangga dengan kaum muslilimin di Madinah.
Mereka telah mengadakan perjanjian damai dan tolong menolong dengan kaum
muslimin ketika Rasulullah sampai di Madinah.
•
PENGKHIANATAN
YAHUDI BANI NADHIR
YAHUDI BANI NADHIR
Suatu
saat Rasulullah pergi ke perkampungan Bani Nadhir untuk meminta diyah dua orang
muslim yang terbunuh dari Bani Amir, yang melakukan pembunuhan adalah Amr bin
Umayyah Ad-Dhamani, seorang muslim. Ketika Rasulullah sedang duduk bersandar di
dinding rumah mereka, maka saling berbisiklah mereka, Kata mereka : “kalian
tidak pernah mendapati lelaki itu dalam keadaan seperti sekarang ini, ini
kesempatan buat kita. Oleh karena itu hendaklah salah seorang dari kita naik ke
atas rumah dan menjatuhkan batu ke arahnya, dan untuk tugas ini diserahkan
kepada Amr bin Jahsy bin Ka’ab.
•
PERLINDUNGAN ALLAH DARI
KONSPIRASI PEMBUNUHAN YAHUDI
•
Ketika Amr bin Jahsy hendak
melaksanakan rencana pembunuhan terhadap Rasulullah, Allah menyelamatkan dan
melindungi Rasululllah dengan mengirimkan berita lewat Malaikat Jibril tentang
rencana jahat itu. Kemudian Rasulullah bergegas pulang ke Madinah dan
menginformasikannya kepada para sahabat tentang makar tersebut.
•
PENGUSIRAN BANI NADHIR
DARI MADINAH
DARI MADINAH
•
Rasulullah memerintahkan
para sahabat untuk memerangi mereka. Ketika Yahudi Bani Nadhir mengetahui
kedatangan pasukan Rasulullah, mereka cepat pergi berlindung di balik benteng.
•
Kedatangan Rasulullah dan
para sahabatnya disambut dengan lemparan batu dan anak panah.
•
Namun pasukan Islam
berhasil mengepung perkampungan mereka selama 6 malam, beliau memerintahkan
untuk menebang pohon kurma mereka dan membakarnya, dan Allah memasukkan rasa
gentar dan takut dihati mereka, sehingga mereka memohon izin kepada Rasulullah
saw untuk keluar dari Madinah dan mengampuni nyawa mereka.
•
TENTANG PELUCUTAN SENJATA
•
Akhirnya tak ada pilihan
bagi Yahudi bani Nadhir kecuali menyerah dan terjadi pelucutan senjata dengan
syarat-syarat :
- Mereka harus meninggalkan Madinah tanpa membawa perlengkapan-perlengkapan perang.
- Mereka diperbolehkan membawa seluruh persediaan sandang dan pangan.
- Pihak Islam menjamin tidak mengganggu pelaksanaan pengunduran diri mereka dari wilayah itu.
•
PERISTIWA
SEBELUM PENARIKAN DIRI BANI NADHIR
SEBELUM PENARIKAN DIRI BANI NADHIR
•
Sebelum mereka meninggalkan
madinah, mereka merusak bangunan dan rumah-rumah mereka agar tidak dihuni kaum
muslimin.
•
Sebagian mereka akhirnya
mengungsi ke Khaibar, sebuah kota kecil yang terletak 100 mil dari Madinah dan
wilayah Jursy di sebelah selatan Syam.
•
PERANG
BANI MUSTHALIQ (MURAISI’)
BANI MUSTHALIQ (MURAISI’)
•
Disampaikan dalam Ta’lim
Bulanan kajian Sirah Nabawiyah
•
Di KPP Kali Bata Jakarta
•
PERISTIWA PERANG BANI
MUSTHALIQ
•
Perang Bani Musthaliq
terjadi di bulan Sya’ban tahun kelima (5) Hijrah. Ini pendapat yang paling
sahih. Karena terena terdapat riwayat yang mengatakan bahwa perang ini terjadi
pada tahun keenam hijriyah.
•
Yang menguatkan bahwa
perang ini terjadi pada tahun 5 hijriyah adalah keikutsertaan Sa’ad bin Muadz
dalam perang ini. Sedangkan beliau meninggal dalam perang Bani Quraidhah akibat
luka yang dideritanya pada perang Khanadaq. Sedangkan perang Bani Quraidhah terjadi
pada tahun ke 5 H.
•
LATAR BELAKANGNYA
•
Latar belakang perang ini
adalah terkait satu berita yang diterima
oleh Rasulullah (s.a.w) bahwa ketua qabilah Banu al-Mustalaq yang bernama
al-Harith bin Abi Dhirar, telahpun mengerah tenaga kaumnya dan suku-suku bangsa
Arab yang dibawah pengaruhnya untuk bergerak ke arah Madinah memerangi
Rasulullah.
•
Dengan itu Rasulullah pun
mengutus Buraidah bin al-Hasib al-Aslami untuk memastikan kesahihan berita yang
telah diterima itu. Buraidah pun terus menemui qabilah ini malah beliau telah
bertemu dengan al-Harith bin Abi Dhirar dan berdialog dengannya. Setelah itu beliau pulang dengan membawa kenyataan
yang dibuat oleh al-Harith tadi.
•
Rasulullah langsung keluar ke arah mereka sampai sampai
bertemu di telaga al-Muraisi’
•
PARTISIPASI KAUM MUNAFIQIN
•
Dalam perang ini sejumlah
besar kaum munafiqin ikut keluar bersama dengan kaum muslimin. Padahal dalam
peperangan-peperangan sebelumnya mereka biasanya tidak mau ikut.
•
Karena mereka berkali-kali
melihat kemenangan yang diraih kaum muslimin dan ingin mendapatkan ghanimah
maka mereka ikut dalam perang tersebut.
•
PERTENGKARAN DI DEKAT
TELAGA MURAISI’
Ibnu
Hisyam meriwayatkan dalam sirahnya, Setelah selesai peperangan Banu
al-Mustalaq, Rasulullah pun berhenti di al-Muraisi’ di situ kaum muslimin pun
singgah dan mengambil air di kawasan telaga, bersama-sama Saidina Umar seorang
suruhan bernama Jahjah al-Ghaffari, orang suruhan ini bertengkar di telaga tadi
dengan Sinan Ibnu Wabar al-Juhani, mereka berdua saling
pukul memukul, oleh si al-Juhani, beliau berteriak membangkitkan sentimen etnis dengan
teriakannya; “Wahai orang-orang Ansar”.
Dan si
Jahjah pun berteriak membangkitkan sentimen etnis dengan teriakannya: “Wahai
kalian Muhajirin”. Rasulullah pun berkata
kepada semua hadirin: ” Apakah kamu rela menyeru dengan seruan jahiliah
ini sedang aku masih bersama di kalangan kamu ini? Tinggalkanlah semua seruan
itu, tinggalkan yang lapuk dan busuk”.
•
Komentar Tokoh Munafiq
•
Mendengar kejadian
pertengkaran tentang sentimen etnis tersebut Abdullah bin Ubay bin Salul
berkata :
“Apakah
mereka (Muhajirin) telah melakukannya ? Mereka telah menyaingi dan mengungguli
jumlah kita di negeri sendiri. Demi Allah antara kita dan orang-orang
Quraisy ini tak ubahnya seperti seperti
apa yang dikatakan orang : “Gemukkan anjingmu agar menerkammu. “Demi Allah,
jika kami kita telah sampai di Madinah, orang mulai pasti mengusir kaum yang
hina (Muhajirin)”
•
TERAPI RASULULLAH TERHADAP
PROBLEM INTERNAL KAUM MUSLIMIN
•
Di antara orang yang
mendengar ungkapan Abdullah bin Ubay
adalah Zaid bin Arqom. Ia kemudian melapor berita tersebut kepada Rasulullah
saw. Pada saat itu Umar berada disamping Rasulullah saw lalu beliau berkata :
•
فكيف يا
عمر إذا تحدث الناس أن محمدا يقتل أصحابه ؟ لأ
•
“Bagaimana wahai Umar, jika
orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh sahabatnya ? Tidak”.
•
Ini lah solusi untuk
mengatasi benturan internal kaum muslimin.
•
Rasulullah saw segera
memerintahkan kaum muslimin agar secapatnya berangkat. Lalu kaum muslimin
berabgkat mematuhi perintah Rasulullah saw. Pada waktu itu beliau meneruskan
perjalanan sampai keesokan harinya. Pada keesokan harinya ketika mereka
berhenti disuatu tempat, tidak seorangpun yang dapat menahan rasa kantuk. Semua
tertidur di tanah.
•
Maka sibuklah beramal
islami agar kita tidak jatuh pada ghibah yang diharamkan Allah swt.

0 komentar:
Post a Comment