PERANG KHANDAQ ATAU PERANG
AHZAB
Disampaikan pada Ta’lim
Bulanan
Kajian Serial Sirah
Nabawiyah
LANDASAN SYAR’I
Firman Allah swt (an-Nisa’
: 51-52) :
أَلَمْ
تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ
وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ
آَمَنُوا سَبِيلًا (51) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ
اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52)
Artinya : “Apakah
kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? Mereka
percaya kepada jibt dan thaghut[309], dan mengatakan kepada
orang-orang Kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari
orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa
yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong
baginya”.
WAKTU TERJADINYA
PERANG KHANDAQ
Mayoritas ahli sejarah
muslim dan Imam Ibnu Ishak, Urwah bin Zubair, Qotadah, Baihaqi mengatakan bahwa
peperangan ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke lima Hijriyah.
Terdapat pendapat yang
mengatakan perang ini terjadi pada tahun ke empat hijriyah seperti pendapat
Musa bin Uqbah namun ini adalah pendapat yang marjuh/ lemah.
LATAR BELAKANG TERJADINYA
PERANG
Sebab perang ini adalah
karena beberapa pimpinan Yahudi dari Bani nadzir berangkat ke Makkah untuk
mendorong kaum musyrikin Quraisy melancarkan perang terhadap Rasulullah saw.
Mereka berjanji, “kami akan
berperang bersama kalian hingga berhasil menghancurkannya”
Mereka berdalih, “bahwa
kepercayaan kalian (orang-orang Quraisy) jauh lebih baik dari pada agama
Muhammad”
KABILAH-KABILAH YANG
BERKOALISI DENGAN YAHUDI BANI NADZIR
SIKAP RASULULLAH SAW
- Ketika Rasulullah saw mendengar berita keberangkatan mereka dari Makkah, beliau mengumumkan kepada kaum muslimin dan memerentahkan mereka untuk mengadakan persiapan perang.
- Rasulullah meminta pandangan para sahabatnya dalam menghadapi perang tersebut.
- Salman mengusulkan agar digali parit di sekitar kota Madinah.
STRATEGI SALMAN AL-FARISI
Pada saat itu jumlah umat
Islam masih sedikit; hanya sekitar 3 ribu personil, padahal jumlah pasukan
musuh telah mencapai 10 ribu personil. Tentunya mereka beranggapan tidak ada
daya dan kekuatan untuk menghadapi mereka secara konfrontatif, kecuali dengan
membangun benteng sehingga dapat menghalangi langkah musuh.
Umat Islam ketika itu
berhadapan dengan dua buah pilihan yang sama beratnya. Mereka tidak mungkin
menyongsong pasukan lawan karena sama saja bunuh diri. Namun untuk bertahan
pun, jumlah mereka terlampau sedikit.
Namun Salman Al-Farisi
punya ide lain. Beliau berkata: ”Wahai Rasulullah, sewaktu kami di Persia, jika
kami diserang, kami membuat parit, alangkah baik jika kita juga membuat Parit
sehingga dapat menghalangi dari melakukan serangan”.
Secara cepat nabi saw
menyutujui pendapat Salman. Maka dari itu, membuat parit menjadi peristiwa
pertama yang disaksikan oleh Arab dan umat Islam, karena mereka belum pernah
menyaksikan sebelumnya parit sebagai sarana untuk berperang. Inilah asal muasal
nama Perang Khandaq.
GAMBARAN KERJA KAUM
MUSLIMIN DALAM MENGGALI PARIT
Akhirnya Rasulullah dan
para sahabat keluar dari kota Madinah dan berkemah di salah satu tempat di
bukit gunung Sala’ sehingga membelakangi kota Madinah. Kemudian mereka mulai
melakukan penggalian parit untuk memisahkan antara mereka dan musuh. Pada saat
itu umat Islam berjumlah 3 ribu personil. Rasulullah mulai membuat peta
penggalian; dimulai dari Ajam Syaikhain (benteng yang dekat dengan kota Madinah
yang diberi nama Syaikhain) yang terletak di ujung Bani haritsah; dan memanjang
hingga mencapai garis di Al-Madzadz –salah tempat di Madinah- dan kemudian
lebarnya 40 hasta pada setiap 10 lubang.
Selama membangun parit
dalam waktu 6 hari, pertahanan kota di bagian lain juga diperkuat. Wanita dan
anak-anak dipindahkan ke rumah yang kokoh dan dijaga ketat. Bongkahan batu-batu
diletakkan di samping parit untuk melempari pasukan lawan.
Umat Islam bersama
Rasulullah saw mulai bekerja membuat parit dan mereka menganggapnya sebagai
ibadah yang akan ada ganjarannya kelak, mereka saling bergotong royong dan
saling membantu. Rasulullah saw begitu giat bekerja sehingga umat Islampun
semangat melakukannya.
Namun di dalam pekerjaan,
kaum munafiqin melakukan manuver untuk memperlambat pekerjaan, mereka kadang
lamban bekerja, pergi lalu lalang kesana kemari tanpa tujuan yang jelas dan
bahkan mereka sengaja pergi ke keluarga mereka tanpa sepengetahuan Rasulullah
saw.
Hidangan Keluarga
Jabir radhiyallahu ‘anhu
Jabir radhiyallahu ‘anhu
Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dalam Shahih keduanya dari Jabir bin Abdullah:
لَمَّا
حُفِرَ الْخَنْدَقُ رَأَيْتُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
خَمَصًا شَدِيْدًا فَانْكَفَأْتُ إِلَى امْرَأَتِي فَقُلْتُ: هَلْ
عِنْدَكِ شَيْءٌ فَإِنِّي رَأَيْتُ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ خَمَصًا شَدِيْدًا؟ فَأَخْرَجَتْ إِلَيَّ جِرَابًا فِيْهِ صَاعٌ مِنْ
شَعِيْرٍ وَلَنَا بُهَيْمَةٌ دَاجِنٌ فَذَبَحْتُهَا وَطَحَنَتِ الشَّعِيْرَ
فَفَرَغَتْ إِلَى فَرَاغِي وَقَطَّعْتُهَا فِي بُرْمَتِهَا ثُمَّ وَلَّيْتُ إِلَى
رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: لاَ تَفْضَحْنِي
بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِمَنْ مَعَهُ. فَجِئْتُهُ
فَسَارَرْتُهُ فَقُلْتُ: يَا
رَسُوْلَ اللهِ ذَبَحْنَا بُهَيْمَةً لَنَا وَطَحَنَّا صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ كَانَ
عِنْدَنَا، فَتَعَالَ أَنْتَ وَنَفَرٌ مَعَكَ. فَصَاحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا أَهْلَ الْخَنْدَقِ، إِنَّ جَابِرًا قَدْ صَنَعَ
سُوْرًا فَحَيَّ هَلاً بِهَلِّكُمْ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: لاَ تُنْزِلُنَّ بُرْمَتَكُمْ وَلاَ تَخْبِزُنَّ عَجِيْنَكُمْ حَتَّى
أَجِيْءَ. فَجِئْتُ وَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقْدُمُ النَّاسَ حَتَّى جِئْتُ امْرَأَتِي فَقَالَتْ: بِكَ وَبِكَ. فَقُلْتُ:
قَدْ فَعَلْتُ الَّذِي قُلْتِ. فَأَخْرَجَتْ لَهُ عَجِيْنًا فَبَصَقَ فِيْهِ
وَبَارَكَ ثُمَّ عَمَدَ إِلَى بُرْمَتِنَا فَبَصَقَ وَبَارَكَ ثُمَّ قَالَ: ادْعُ
خَابِزَةً فَلْتَخْبِزْ مَعِي وَاقْدَحِي مِنْ بُرْمَتِكُمْ وَلاَ تُنْزِلُوْهَا.
وَهُمْ أَلْفٌ، فَأُقْسِمُ بِاللهِ لَقَدْ أَكَلُوا حَتَّى تَرَكُوْهُ
وَانْحَرَفُوا وَإِنَّ بُرْمَتَنَا لَتَغِطُّ كَمَا هِيَ وَإِنَّ عَجِيْنَنَا
لَيُخْبَزُ كَمَا هُوَ
“Ketika penggalian khandaq,
aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sangat
lapar, maka akupun kembali kepada isteriku dan berkata kepadanya: “Apakah
engkau punya sesuatu? Karena aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam keadaan sangat lapar”.
Isteriku mengeluarkan
karung kulit yang di dalamnya terdapat segantang gandum. Dan kami masih punya
seekor kambing kecil. Akupun mulai menyembelih kambing itu sementara isteriku
mengadon tepung (membuat roti). Dia pun menyelesaikan pekerjaannya bersamaan
dengan aku menyelesaikan pekerjaanku. Lalu aku memotong-motongnya di dalam
burmah (periuk dari batu), kemudian aku kembali kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Isteriku berkata: “Jangan membuatku malu di hadapan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya”.
Akupun menemui beliau dan
membisiki beliau, aku katakan: “Wahai Rasulullah, kami sudah menyembelih seekor
kambing kecil dan mengadon segantang gandum yang kami punyai. Jadi, kemarilah
engkau dan beberapa sahabatmu”.
Maka Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pun berseru: ‘Wahai para penggali parit, sesungguhnya Jabir
sudah menyiapkan hidangan. Marilah segera, kalian semua!’
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Jangan turunkan periuk dan adonan kalian sampai aku datang.’
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Jangan turunkan periuk dan adonan kalian sampai aku datang.’
Akupun pulang dan datanglah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahului kaum muslimin hingga aku
menemui isteriku.
Dia berkata: ‘Gara-gara kamu, gara-gara kamu.’
Aku katakan: ‘Sudah aku lakukan apa yang kamu katakan.’
Dia berkata: ‘Gara-gara kamu, gara-gara kamu.’
Aku katakan: ‘Sudah aku lakukan apa yang kamu katakan.’
Lalu dia pun mengeluarkan
adonan itu dan menyerahkannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliaupun (meniup/menyemburkan sedikit air liur) dan mendoakan keberkahan
padanya, kemudian menuju periuk kami, lalu menyemburkan sedikit air liur dan
mendoakan keberkahan padanya. Kemudian beliau berkata: ‘Panggil si pembuat roti
agar dia buat roti bersamaku dan ciduklah dari periuk kalian, tapi jangan
diturunkan.’
Mereka ketika itu berjumlah
seribu orang. Aku bersumpah demi Allah, sungguh semuanya makan sampai mereka
tinggalkan (bersisa) dan kembali pulang, sementara periuk kami benar-benar
masih mendidih (isinya) sebagaimana awalnya, dan adonan itu juga masih seperti
semula.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu
‘anhuma)
KEMENANGAN KAUM MUSLIMIN
Allah memberikan kemenangan
kaum muslimin dengan dua sarana yang tidak melibatkan kaum muslimin sama
sekali.
- Islamnya Nu’aim bin Mas’ud dari kaum musyrikin yang menawarkan kepada Rasulullah untuk melaksanakan segala bentuk perintah yang diinginkan oleh Nabi saw. Lalu beliau menugaskan untuk memecah belah kekuatan musuh. Rasulullah saw bersabda :
إنما أنت رجل واحد فينا, ولكن خدل عنا إن استطعت فإن الحرب خدعة
“Di antara kita, engkaulah satu-satunya orang yang dapat
melaksanakan tugas ini. Bila engkau sanggup, lakukanlah tugas itu untuk
menolong kita. Ketahuilah bahwa peperangan sesungguhnya adalah tipu daya”
2. Mengirimkan angin Taupan pada malam hari yang dingin dan
mencekam. Angin Toupan yang menghancurkan kemah-kemah mereka dan menerbangkan
kuali-kuali mereka setelah mengepung
kaum muslimin selama sepuluh hari lebih.
Pelajaran Dari Perang
Khandaq
- Kerja para sahabat bersama Rasulullah dalam menggali parit merupakan pelajaran besar kaum muslimin tentang hakekat persamaan yang ditegakkan oleh masyarakat Islam di antara seluruh anggotanya.
- Perang Khandak memberi pelajaran tentang kecintaan Rasulullah kepada para sahabatnya dan sekaligus cinta para sahabat kepada Rasulullah saw.
- Taqorrob dan doa merupakan kunci kemenangan kaum muslim.
- Rasulullah dalam perang ini sempat mengqodo’ salat asar karena terlalu sibuk perang. Namun hal ini di nasakh/dirombak ketika disyariatkan shalat khauf.

0 komentar:
Post a Comment